16 Oktober 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Rupiah Melemah Rp 13.548 Per Dolar AS


Rupiah Melemah Rp 13.548 Per Dolar AS
Ilustrasi

KLIKBONTANG- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat, 6 November 2015 pagi, bergerak melemah lima poin dari posisi terakhir kemarin menjadi Rp13.548 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa dolar AS secara umum masih mempertahankan tren penguatannya menjelang datangnya angka data penggajian non pertanian atau non farm payrolls (NFP) pada Jumat nanti malam yang diperkirakan membaik.

"Dolar AS juga menguat di pasar kawasan Asia. Dolar AS berpeluang bertahan di tren penguatannya jika data ekonomi AS terus membaik," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah masih akan terbatas menyusul sentimen positif yang muncul dari membaiknya angka pertumbuhan ekonomi triwulan III 2015. Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan III-2015 tumbuh 4,73 persen (year on year).

Saat ini, lanjut dia, pelaku pasar uang juga sedang menanti cadangan devisa Oktober 2015, diharapkan mencatatkan hasil positif sehingga dapat menopang rupiah untuk kembali menguat.

"Dolar AS juga menguat di pasar kawasan Asia. Dolar AS berpeluang bertahan di tren penguatannya jika data ekonomi AS terus membaik"

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta

Analis dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe menambahkan bahwa tren inflasi rendah pada tahun ini diharapkan diikuti oleh kebijakan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate). Dengan demikian, potensi pertumbuhan ekonomi domestik bisa lebih agresif.

"Pertumbuhan PDB Indonesia didominasi oleh konsumsi masyarakat, melalui kebijakan pelonggaran suku bunga diperkirakan dapat mendorong daya beli masyarakat meningkat," katanya.

BPS mencatat pada Oktober 2015 terjadi deflasi 0,08 persen. Dengan terjadinya deflasi pada Oktober, maka inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2015 telah mencapai 2,16 persen dan inflasi secara tahun ke tahun (year on year) 6,25 persen.

Namun, ia menambahkan bahwa pelaku pasar uang juga diharapkan tetap waspada terhadap sentimen global terkait pernyataan Gubernur bank sentral AS (the Fed) Janet Yellen yang mengindikasikan kenaikan suku bunga AS pada Desember 2015. (*)

Reporter : Sulkifli    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0