16 Oktober 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Fenomena Prostitusi di Bogor, Jalan Pintas saat Ekonomi Sulit


Fenomena Prostitusi di Bogor, Jalan Pintas saat Ekonomi Sulit
Pelaku prostitusi di bawah umur berinisial Y di Kawasan Puncak, Bogor. Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan

KLIKBONTANG --“Prostitusi adalah profesi tertua di dunia.” Begitu kata Kasubdit 3 Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, AKBP Arif Rahman.

Arif sadar betul, tangkapannya Jumat (4/10) pagi itu tak bisa diperlakukan sembarangan. Terlebih, hukum di Indonesia telah melarang hubungan seks di luar pernikahan.

Pada Jumat subuh, Arif dan jajarannya berhasil menguak tabir prostitusi di kawasan Puncak, Bogor. Dari hasil pengungkapan, polisi mengamankan 5 korban yang dipekerjakan seorang 'Biong' (sebutan bagi penjaja/makelar/kontak penyedia jasa prostitusi).

Kelima korban lalu diperiksa intensif di unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Bareskrim Polri. Satu perempuan berusia 39 tahun dan 4 lainnya remaja putri di bawah umur. Bahkan, seorang di antaranya tengah mengandung dan usia kandungannya sudah 7 bulan.

kumparan mewawancarai salah satu korban. Perempuan berinisial Y (39) itu tampak setengah takut saat ditemui. Jika digambarkan, Y berparas ayu dengan rambut lurus panjang, namun garis mukanya tegas. Dari sorotan matanya, terpancar tatapan iba.

Ia duduk sambil mendekap sebuah tas yang telah dibawanya sejak waktu penangkapan. Ia lalu menutup wajahnya dengan masker, karena sesuai kesepakatan, wajahnya tidak akan muncul di media.

“Saya cuma mau pulang, kasihan anak saya masih kecil-kecil. Kalau tidak terhimpit ekonomi saya enggak begini, kan?” kata Y membuka sesi wawancara.

Y bisa dibilang salah satu pramuria senior dan bertanggung jawab atas tertangkapnya pelaku prostitusi lainnya.

Pada Jumat dini hari sebelum penangkapan, ia sempat dikontak salah seorang pelanggan berinisial F. Kala itu, F minta lima orang gadis berusia 15-16 tahun untuk menemaninya di sebuah vila di kawasan Puncak, Bogor.

Y menyanggupinya, namun ia tidak menjanjikan soal umur. “Kan di bawah umur, ya, kalau 16 tahun teh,” ucap Y.

Ia pun akhirnya membawa 5 orang gadis untuk 'menemani' si pelanggan. Sampai akhirnya, polisi menggerebek tempat Y dan rekan-rekannya bekerja lalu mereka semua diamankan.

Bagaimana kisah Y masuk ke dunia prostitusi?

Y sudah tiga tahun belakangan bergelut di dunia pelacuran. Ia dikenalkan dengan dunia malam oleh suami keduanya.

“Saya sudah menikah 2 kali. Suami pertama meninggal, yang (suami) kedua saya punya 3 anak,” ujar dia.

Suami kedua Y bekerja sebagai Biong. Setelah memiliki 5 anak dari dua suaminya, ia merasa perekonomian mereka tercekik. Dan akhirnya ia memutuskan membantu pekerjaan suaminya.

“Suami mengizinkan dengan satu syarat, tidak ada hubungan badan. Hanya joget-joget saja. Tidak boleh ''dipakai'', soalnya kamu ada suami,” kata Y sambil menirukan ucapan suaminya.

Y menuruti keinginan suaminya. Ia memberi hiburan tarian kepada para pelanggan, yang bahkan dicarikan suaminya sendiri.

Penghasilannya pun lumayan, dalam semalam ia bisa mengantongi Rp 400 ribu dengan durasi kerja 1-4 jam. Ia memegang teguh prinsip, tak ada hubungan badan.

Suami meninggal, Y terpaksa bekerja merelakan tubuhnya

Musibah menerpa keluarga Y. Suaminya meninggal dunia, yang akhirnya menyisakan Y sebagai tulang punggung keluarga dengan 5 anak yang harus dipenuhi kebutuhannya.

Maka, dengan berat hati, Y menjadi pekerja seks komersial.

“Kalau kemarin, itu tidur bareng (dengan pelanggan) karena suami sudah meninggal, karena banyak utang saya terbebani utang almarhum,” tutur Y.

Y mengantongi Rp 700 ribu per malam. Sesi cerita lalu terhenti, saat suaranya semakin lirih. Ia tampak tak tenang dan terus meremas tas yang dipeluknya.

Siapa saja pelanggan Y?

Kali ini ia bercerita soal pelanggannya. Biasanya, ia dan rekan-rekannya melayani wisatawan atau turis dari ''Arab''. Meski mereka tak bisa mengetahui pasti negara Arab yang mana, apakah Aljazair, Tunisia, Maroko, atau lainnya.

Bagi mereka, pria-pria itu semua berwajah Arab. Ya, lekat dari penampilannya, begitu juga dengan bahasa yang digunakan pelanggannya.

Tak jarang ia mendapat perlakuan kasar dari pelanggan asing itu. Namun, Y mendapat jaminan dari para Biong, jika ada luka atau masalah mereka siap turun tangan.

“Semalem teh, saya merasa dijebak. Biasanya saya enggak ngelayanin orang Indonesia, terus kejadian, kan. Kegep gitu, ketangkap,” ungkapnya.

Penyesalan bekerja di dunia malam

Kini hanya rasa sesal yang bisa dirasakan Y. Meski begitu, ia mengaku sebetulnya telah berancang-ancang untuk pamit dari dunia malam.

“Kalau cicilan motor saya, dua motor itu, sudah lunas. Insyaallah saya kerja yang benar, ada di salon di Jakarta,” jelasnya.

Lalu, ada satu hal yang membuatnya tercekat. Rupanya, kelima anaknya telah mengetahui ibundanya bekerja di dunia malam. Meski sedih, kelimanya berusaha maklum.

“Anak-anak tahu saya begini. Anak pertama yang memberi rasa maklum. Katanya, 'mama sekarang sendiri, terus mau gimana lagi? Mama tulang punggung, dan mama enggak pakai uang tersebut buat hura-hura, tapi buat kita',” tutur Y.

Anak pertama Y juga berprestasi di sekolahnya. Bahkan, kini anaknya sedang menempuh studi S1 di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Sesi berbincang kami pun selesai, karena Y dipanggil penyidik untuk pemeriksaan lanjutan.

“Aku kangen anak-anak, aku pengin pulang,” tutup Y.

Sumber : kumparan.com

Reporter :     Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0