16 Oktober 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Produk Asmami Bontang Rambah Gerai Retail Nasional di Kaltim


Produk Asmami Bontang Rambah Gerai Retail Nasional di Kaltim
Ketua Asmami Bontang, Ike Asteria

KLIKBONTANG -- Produk hasil olahan Asosiasi Makanan dan Minuman (Asmami) Bontang sudah masuk ke gerai retail nasional yang tersebar di Kalimantan Timur (Kaltim).
 
Ketua Asmami Bontang, Ike Asteria menjelaskan, produk Asmami mulai masuk ke gerai-gerai retail nasional sejak November 2018 lalu.
 
Dia merinci, produk Asmami mengisi 80 gerai-gerai Alfamidi yang tersebar di Kaltim; 5 gerai Era Mart di Bontang; dan beberapa gerai Indomaret di Bontang.
 
Ada delapan item produk Asmami yang lolos ke supermarket. Diantaranya dua varian teri krispy, kripik bawais dua varian; terasi koin; dan teh bawang dayak.
 
"Kedepan kami mau ajukan lagi (masuk gerai) karena untuk seleksi masuk itu bisa per enam bulan," bebernya.
 
Di Asmami sendiri terdapat 130 UMKM yang bernanung di dalamnya. Disini Asmami hanya berlaku sebagai pihak ketiga untuk mempertemukan UMKM dan pemilik supermarket atau pengelola  gerai retail agar produk anggotanya bisa di pasarkan. Selain itu, Asmami juga bertugas mempromosikan hasil produksi anggotanya.
 
"Pada dasarnya semua produk kami terima. Cuma kami tetap tekankan di lima ikon yang didengungkan Wali Kota Bontang," urai Ike.
 
Adapun lima ikon itu meliputi pengelolaan  ikan, rumput laut, bawis, terasi dan mangrove. Kelimanya ini di tekankan, mengingat menjadi hal tak terpisahkan dari identitas Bontang sebagai kota yang 70 persennya adalah laut.
 
Kendala Memasuki Gerai
 
Dikatakan Ike, sejatinya pihaknya tak sulit memasuki gerai retail nasional. Terpenting bahwa produk diproduksi memang berkualitas; baik secara rasa dan penampilan (packaging).  Menjadi kendala justru ada di anggota Asmami itu sendiri. Apakah sanggup memenuhi pemesanan (order) yang diminta gerai atau supermarket. Personal utama Asmami sejatinya klasik, yakni di sisi permodalan.
 
"Tahu aja kan mbak. Sekali order (produk) itu langsung jumlah banyak," bebernya.
 
Kata Ike, ketika produk diterima mengisi supermarket, maka Asmami harus siap mengirim produk sesuai pesanan (Order) ditetapkan pengelola supermarket. Di mana, itu pasti dalam jumlah banyak. Bila tak sanggup penuhi jumlah pesanan, mereka (Asmami) bisa terkena penalti.
 
Jadi persoalan, karena produk harus dikirim dahulu, dipasarkan, namun pembayaran dibelakang. Beberapa anggota Asmami Bontang agak kewalahan untuk satu ini. Lantaran modal mereka banyak diputar guna memenuhi order yang pertama. Sementara untuk mengisi order selanjutnya  mereka sudah kekurangan modal.
 
"Kan ini sistemnya PO (Pre order) jadi kita kirim barang dulu, baru nanti dibayarkan," ujar Ike.
 
Katakanlah produk dipesan sebanyak 1000 buah. Mau produk itu laku atau tidak, pengelola supermarket tetap akan membayar senilai produk yang dipesan. Namun proses pencarian dana itu yang membutuhkan waktu. Sehingga, anggota Asmami belum bisa produksi lagi bila yang lama belum dibayarkan.
 
"Tetap akan dibayar sesuai order. Tapi itu kan butuh waktu. Yang wajib kita ganti kalau produknya kedaluwarsa atau rusak," ujarnya.
 
Tapi, kata Ike, kendati belum terpecahkan sepenuhnya, sedikit banyak bantuan perusahaan (CSR) kepada pelaku UMKM bisa membuat anggota Asmami sediki bernapas lega. Karena selain dibantu dari sisi edukasi pengembangan bisnis, pun dari sisi permodalan.
 
"CSR perusahaan juga aktif bantu kami. Sebenarnya ini sangat membantu kami terus berkembang," tandasnya.
Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0