23 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kasus DBD Meningkat di Bontang, Wali Kota Bontang Minta Segera Ambil Tindakan


Kasus DBD Meningkat di Bontang, Wali Kota Bontang Minta Segera Ambil Tindakan
Wali Kota Bontang memberikan pengarahan saat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang melakukan rapat koordinasi penanganan demam berdarah dengue (DBD)

KLIKBONTANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang kembali menggelar rapat koordinasi penanganan demam berdarah dengue (DBD), Selasa (10/9/2019) pagi. Rapat yang dihelat di pendopo rumah jabatan (Rujab) Wali Kota Bontang ini melibatkan segenap unsur, mulai lurah, camat, rumah sakit, puskesmas, dan segenap mitra terkait dalam penanganan masalah kesehatan di Bontang.

 
Membuka rapat, Kepala Dinas (Kadis) Dinkes Bontang, Bahauddin, menuturkan bahwa rapat ini dilakukan menyusul hasil asistensi teknis terpadu pengangan DBD Kota Bontang oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Kala menyambangi Bontang selama tiga hari, dari 3-6 September 2019 lalu.
 
Tim Kemenkes melakukan penelitian di tiga lokus investigasi. Yakni Puskesmas (PKM) Bontang Selatan dengan wilayah kerja Tanjung Laut Indah dan Gunung Elai; PKM Bontang Utara I dengan wilayah kerja Api-Api dan Gunung Elai; serta RSUD Taman Husada dan RS Pupuk Kaltim.
 
Usai tiga hari penelitian, diketahui nyamuk yang berkembang di Bontang adalah aedes aegypti atau jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab DBD. Itu berarti, Bontang sudah termasuk wilayah endemik DBD.
 
"Makanya semua kita kumpulkan hari ini (Selasa), supaya kita bisa segera ambil tindakan," terang Bahauddin.
 
Sementara itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni yang turut hadir dalam rapat itu menegaskan. Segenap elemen masyarakat, khususnya dinas terkait lurah, dan camat harus bergerak cepat. Ia tak ingin, musibah pada 2016 lalu kala terdapat 11 orang masyarakat Bontang meninggal dunia akibat DBD kembali berulang.
 
"Harus bergerak cepat ini. Jangan sampai ada korban jiwa lagi," tegasnya.
 
Dijelaskan, secara umum hampir semua wilayah di Indonesia mengalami peningkatan kasus DBD. Bukan hanya di Bontang. Kendati demikian, Pemkot Bontang diketuai Dinkes Bontang tetap akan bergerak cepat, tidak boleh lengah.
 
Di Bontang sendiri, hingga Agustus 2019, tercatat 547 kasus DBD terjadi, yang berujung 3 korban jiwa. Itu juga mendasari tim Kemenkes menyambangi Bontang beberapa waktu lalu.
 
Wali Kota Neni kemudian mendorong agar segera dilakukan tindakan massif dalam menanggulangi persoalan ini. Dia menyatakan fogging massal serentak se-Bontang dilakukan.
 
Selain itu, perusahaan juga akan digandeng. Untuk bersama menanggulangi dan mencegah DBD di daerah penyangga terdekat mereka (bufferzone).
 
"Dengan pemetaan yang baik, insha allah pasti kita bisa atasi masalah ini," ujar Wali Kota Neni.
 
Selain itu, ia merekomendsikan agar satu rumah satu jumantik. Ini dilakukan agar pencegahan DBD di Bontang lebih efektif. Untuk melaksanakan ini, nantinya ia meminta agar camat, lurah, juga Forum Komunikasi Kota Sehat (Forkohat) saling bekerjasama. Untuk memperkuat edukasi di tataran masyarakat akar rumput. Semua harus turun ke lapangan (Masyarakat).
 
"Intinya, saya mohon sekali, seluruh warga kota [Bontang] untuk menjaga kebersihan.
Galakkan lagi itu 3M; menguras, menimbun, menutup," pungkasnya.
Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0