23 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berawal dari Facebook, Kisah Warga Bontang Ciptakan Pendeteksi Banjir


Berawal dari Facebook, Kisah Warga Bontang Ciptakan Pendeteksi Banjir
Komunitas Kompas berfoto bersama usai memasang pendeteksi banjir. (FOTO-FOTO:FITRI/KLIKBONTANG)

KLIKBONTANG.com -- Usai banjir merendam Bontang 4-5 Juni 2019 lalu. Kota ini menjadi demikian riuh. Angkatan tua dan muda saling adu komentar di sosial media, terlebih Facebook (FB). Kelompok yang menuding aneh-aneh pada perusahaan tambang tanpa pembuktian konkret. Hingga anggota dewan yang berani sumpah pocong sebab kadung emosi dituduh menerima upeti dari tambang.

Dari perdebatan di kalangan masyarakat, terdapat segelintir orang yang benar-benar bekerja. Mengorbankan waktu dan materil, demi mengurangi persoalan banjir Bontang. Meski itu hanya sedikit.

Kala itu, sore sekira pukul 17.10 Wita. Beberapa pria terlihat nangkring di bantaran hulu sungai Bontang. Terletak di Jalan Poros Samarinda-Bontang, Kilometer 7. Sebagian besar terlihat berjongkok sembari menikmati kopi botol dan kue ringan. Ya, mereka adalah Komunitas Kompas.

Komunitas Kompas di inisiasi Wilis Permadi, diawal 2019. Awalnya ia ingin mengembangkan project weather station (stasiun cuaca) di sejumlah titik di Bontang. Sadar akan keterbatasannya, Willis kemudian mengumpulkan orang-orang di kota ini. Yang dapat diajak berkolaborasi. Pencarian itu dia lakukan melalui grup-grup Facebook (FB) yang memuat warga Bontang.

Mencari  tim dengan kesamaan visi bukan tugas mudah. Ketika mulai mencari di FB, respon warganet Bontang sangat positif. Namun hanya sebatas itu, respon positif di FB. Konkretnya di lapangan nyaris nihil.

Pada akhirnya, diantara ratusan komentar di grup-grup FB. Wilis berhasil menjaring 10 orang. Kesemuannya memiliki latar belakang berbeda. Pun tak saling kenal, antara satu sama lain. Pertemuan mereka semata karena miliki visi bersama "Berkontribusi bagi kota walau itu tak besar".

Mereka ialah: Bagus selaku Humas Eksternal; Rendra dalam bidang IT; Wilis Permadi di Electronic Hardware; Hikari, Radesh, Nandesh, sebagai Field Engineer; Dayat sebagai Mechanical; Eko sebagai Procurement; Gilang di Mechanical; dan Titus dalam  Electrical.

Tim terkumpul, mereka mulai merancang kerja lapangan pertama. Namun belum lagi konsep stasiun cuaca rampung, tiba-tiba Bontang dilanda banjir parah. Tepat H-1 lebaran Idulfitri 2019.

Akhirnya mereka mengalikan fokus alat yang bakal dikembangkan. Dari awalnya pengukuran kondisi cuaca, ke pengkuran level air di sungai Bontang.

Perkenalkan, Auto Water Level Rercorder (AWLR)

KESEPULUH anggota Komunitas Kompas merupakan pekerja di perusahaan dan instansi yang bergerak dalam bidang berbeda. Sehingga pertemuan tak bisa dilakukan demikian intens.

Sembari menunggu kedatangan seluruh komponen pembentuk AWLR. Wilis Permadi masih mencari sukarelawan di grup-grup FB. Hasilnya direspon postif, namun lagi, minim tindakan konkret di lapangan.

Ketika seluruh komponen pembentuk piranti AWLR tiba di Bontang pada pertengahan Juni 2019. Alat itu dirakit dalam waktu demikian singkat. Hanya 3 hari, lantaran perakitan dilakukan secara "keroyokan".

Adapun Automatic Water Level Recorder -- selanjutnya AWLR.  Merupakan suatu piranti yang berfungsi mengukur suatu objek. Baik tanah, air,  dan sebagainya. Dapat diaplikasikan di danau, bendungan, sungai, ataupun aliran irigasi.

Alat ini  merupakan pengganti sistem pengukuran konvensional. Dimana masih terdapat potensi kesalahan pencatatan dan pengukuran, yang umum dilakukan manusia (Human error). Alat ini dapat mengurangi potensi human error itu, lantaran pengukuran dan pencatatan dilakukan oleh sensor yang dipasang di badan AWLR.

AWLR terbentuk oleh 4 komponen utama, yakni sensor, controller, frame support, dan power supply. Keempat komponen ini pun menyerap sekitar 60 persen dana pengembangan. Dari total Rp 13 juta yang dikeluarkan.

Cara kerja AWLR sejatinya cukup sederhana. Sensor infrared yang dipasang di alat ini bakal menangkap atau mencatat level air di sungai tempat alat ini dipasang. Pencatatan dilakukan sepanjang waktu. Selama AWLR  memiliki daya, yang berasal dari power supply (atau pencatu daya).

Data yang dicatat atau ditangkap sensor kemudian disimpan melalui memori internal yang terpasang dalam rangka AWLR. Hebatnya alat ini. Karena sudah terkoneksi internet, jadi seluruh data level air bisa diakses kapanpun, dimanapun, secara real time. Asal memenuhi sejumlah syarat. Yakni: daya AWLR masih tersedia, koneksi internet di AWLR tidak terputus, dan pengakses (Masyarakat) terhubung ke internet atau miliki kuota internet.

Dikatakan Wilis, nyawa ALWR sejatinya di Internet of Things (IoT). Jadi, bila tak ada koneksi internet, alat ini seperti tak berdaya. "Dengan koneksi internet. Masyarakat bisa melihat data level air yang dicatat alat ini (AWLR) dimanapun, dan kapanpun. Jadi kita tak perlu lagi ke sungai untuk mantau level air. Tinggal buka internet. Juga ini untuk menghindari hoaks. Kalau-kalau ada yang bilang level air di hulu Bontang naik lagi," bebernya.

Ketika nanti hujan di daerah sekitar atau di Kota Bontang terjadi. Warga tak perlu lagi was-was soal ketinggian air sungai. Sebab mereka dapat mengetahuinya hanya melalui ponsel genggam, dengan mengakses https://awlr.ketoprakdjawir.com. Disitu level air sungai Bontang dicatat demikian detail, bahkan ada peringatan kalau-kalau level air memang sudah dalam kondisi menghawatirkan.

Motivasi

Melihat apa yang dikerjakan Komunitas Kompas dengan AWLR. Hal pertama yang barangkali terbit di pikiran pembaca atau publik ialah alasan mereka. Apa yang Komunitas Kompas cari? Public attention, kah?

Kembali Wilis menegaskan, tak ada alasan muluk nan politis dibalik pengembangan AWLR. Mereka bekerja, semata untuk memberikan sumbangsih pada Kota Bontang.

Sebagai warga kota yang baik, mereka ingin memberi kontribusi. Walau itu hanya melalui hal-hal kecil. Sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Kebetulan yang dapat mereka persembahkan ialah sebuah alat teknologi terapan. Menyinggung materil dan waktu yang diluangkan untuk AWLR. Dikatakan Wilis, total mereka menghabiskan Rp 13 juta (total ini kala reporter KlikBontang mewawancara mereka akhir Juni 2019 lalu).

Dijelaskan, tak ada alasan spesifik mengapa mereka bersedia berkorban tenaga dan waktu untuk pengembangan alat ini. Semata, lagi-lagi, karena ingin berkontribusi bagi Kota Bontang. Selain itu pembuatan alat ini juga untuk meningkatkan kapasitas mereka.

Lebih jauh, Komunitas Kompas ingin membuktikan bahwa teknologi itu tidak mahal. Tidak diperlukan pemahaman teori tingkat tinggi, atau ahli guna mengembangkan AWLR. Intinya, ujar Wilis, ada di kekompakan tim. Memiliki visi dan misi sama. "Modal tutorial dari google pun pasti bisa," ungkapnya meyakinkan.

"Dana dan energi yang kami habiskan tidak sebanding dengan kepuasan yang kami terima," tambah Willis.

Ini pun dilakukan, sebagai wujud dukungan Komunitas Kompas terhadap visi Pemkot Bontang menjadi Smart City, Kota Cerdas.Ditekankan Willis, Smart City sejatinya harus dimulai dari masyarakat di tingkat akar rumput (Grass root). Bukannya menunggu Pemkot yang bekerja guna "mencerdaskan" kota ini.

"Smart City itu dimulai dari warganya. Kami enggak mau Smart City itu cuma jadi jargon. Inilah bentuk dukungan kami terhadap visi itu," tegasnya.

Kendati ia mengaku, akan sangat hebat bila Pemkot Bontang ikut mendukung project mereka. Sebab di kota-kota lain yang lebih besar, semisal Bandung, Jakarta, dan Surabaya, otoritas ikut terlibat dalam pengembangan.

Otoritas (Dalam hal ini Pemkot) menyediakan segala kebutuhan pengembangan, sedang sisanya, yakni pengembangan dan pengoperasian, diserahkan pada warga. Untuk hasilnya, dapat dinikmati atau dimanfaatkan bagi seluruh warga kota.

Namun untuk AWLR di Bontang saat ini, semuanya murni inisiatif warga (Komunitas Kompas). "Yang kami bangun itu sifat open source-nya (terbuka bagi semua). Jadi ini dari masyarkat untuk masyarakat," jelas Willis.

Proyeksi Kedepan

Alat AWLR yang dipasang di hulu sungai Bontang merupakan project perdana, dan merupakan pilot project (Proyek percontohan). Kendati demikian, Komunitas Kompas serius mengembangkan alat ini. Mereka berharap, dapat memasang ALWR di beberapa titik krusial aliran sungai Bontang di tahun ini.

Tujuannya tentu, agar data level air yang diperoleh bakal lebih akurat. Setidaknya ada data tambahan atau pembanding.

Mereka sudah sempat hearing atau jejak pendapat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang beberapa waktu lalu. Dari sana, mereka mengetahui ada 8 titik krusial aliran sungai Bontang. Nah, kedepan titik itulah rencana dibangun AWLR juga.

"Semoga bisa terealisasi sih. Kami rencana pasang juga di titik yang sudah diberitahu BPBD," ujar Willis.

Hanya data titik kritis yang Komunitas Kompas peroleh dari BPBD Bontang. Belum ada pembicaraan untuk menjajak kerja sama. Namun itu tak surutkan Komunitas Kompas, mereka bakal terus jalan.

"Tetap ujung-ujungnya kita menyajikan data, nih. Terserah nanti otoritas (Pemkot Bontang) mau diapain. Jelasnya kami mau berkontribusi," pungkasnya. ***

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Said NR



Comments

comments


Komentar: 0