22 November 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Jasa Buruh Minyak Balikpapan Melawan Pendudukan Belanda


Jasa Buruh Minyak Balikpapan Melawan Pendudukan Belanda
Kehancuran kilang minyak di Balikpapan akibat Perang Dunia II, 1945. (net)

KLIKBONTANG.com -- Sejarah kota Balikpapan berawal dari penemuan minyak yang kemudian mengundang banyak buruh dan pemodal. Saking banyaknya buruh yang bekerja kepada perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) sejak zaman kolonial, Balikpapan jadi kota buruh. Termasuk menjelang beralihnya aset BPM ke pemerintah Indonesia dan berdirinya Pertamina.

Di Balikpapan sekitar 1937, Warta Oemoem yang dipimpin R. Siregar telah membuktikan diri sebagai korannya kaum buruh. Setidaknya lewat artikel berjudul "Sengadja Dikemoekakan, Oentoek Diperhatikan Soal Gadjih Kaoem Boeroeh BPM" pada edisi 12 Juni 1937.

Sayangnya R. Siregar tidak lama di Balikpapan. Sebagai pegawai BPM, ia pulang kampung sebelum balatentara Jepang datang, begitu kata media komunitas bernama Soeara FONI nomor 13 (26/04/1947), yang merupakan corong kaum republiken era revolusi kemerdekaan di Balikpapan. Balikpapan pada zaman pendudukan Jepang ketambahan penghuni dari Jawa. Ada yang jadi romusha (pekerja paksa) dan ada juga yang jadi Heiho (pembantu tentara).

Salah satunya Kemis bin Singodirta, pemuda asal Toyoreka, Banyumas, yang ahli bubut di Heiho Balikpapan. Pembantu tentara, meski statusnya militer, tetap saja tergolong buruh. Setelah Jepang kalah, Kemis masih di Balikpapan. Di daerah yang tanahnya dijadikan lahan persawahan, cara paling masuk akal untuk bertahan hidup adalah jadi buruh di BPM. Beras sulit di dapat waktu itu.

Perekonomian pasca-Perang Pasifik juga tidak bagus di kota Balikpapan, yang termasuk daerah pendudukan Belanda sepanjang 1946-1949. Balikpapan yang diduduki tentara Belanda itu disusupi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dari Pangkalan IV di Tuban. Kapten Ahmad Zaidi—yang asli Serawak—menjadi perwira intel yang mengumpulkan bahan lewat perwira-perwira bawahannya yang menyusup ke sana.

Armada pasukan darat Republik kebanyakan terfokus di Jawa dan Sumatra. Di luar dua pulau besar itu, ALRI dan jawatan intelijen macam Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) pimpinan Zulkifli Lubis giat menyusup ke pulau seperti Kalimatan. Letnan M. Seman adalah salah satu yang menyusup ke sekitar Kalimantan Timur dan Balikpapan menjadi salah satu kota yang dikunjunginya. Sahli termasuk orang yang didatangi M. Seman.

Sahli adalah orang yang dipercaya mengurusi badan urusan makanan pada masa kesulitan beras itu. Ia dan banyak pemuda lain terlibat dalam gerakan rahasia ALRI Divisi IV karena orang macam Seman. Sahli dijadikan kepala bagian persediaan makanan bagi gerakan rahasia ALRI Divisi IV, begitu yang terangkum dalam arsip Kementerian Pertahanan nomor 1006 (koleksi ANRI).

Pemerintah sipil Hindia Belanda alias Nederlandsch Indië Civiele Administratie (NICA) berkuasa di sana dan gagal membuat ekonomi lebih baik. Rakyat jelata sudah pasti harus banting tulang. “Oleh sebab itu terpaksa sebagian daripada saudara-saudara kita yang masih dapat bekerja, bekerja sama BPM dan lain-lain perusahaan untuk menyambung penghidupannya,” lapor Sahli, salah satu warga Balikpapan yang ikut mengelola Badan Makanan.

Seperti terangkum dalam arsip Kementerian Pertahanan nomor 1006 (koleksi ANRI) anggota SOI AL Letnan Seman melapokan: “keinsyafan bekerja hanya untuk penghidupan, bukan untuk memajukan perusahaan tersebut.”

Balikpapan, tulis Letnan M. Seman adalah “kota kaum buruh yang terbesar di seluruh Kalimantan.” Kota ini pada 1946 sudah punya organisasi buruh bernama Serikat Kaoem Boeroeh (SKB) yang dipimpin pegawai BPM asal Minahasa, Siebold Mawengkang. Wakil ketua merangkap sekretarisnya adalah Moehar Posisi bendahara diisi oleh M Roeslan. SKB punya cabang di kota lain, termasuk di kota kecil dekat Balikpapan, Sanga-sanga.

“Di sini (di Sanga-sanga) SKB telah maju betul dalam perjuangan politik seperti di lain-lain (tempat) juga. Sabotase dan pemberontakan sering terjadi,” lapor Letnan Seman. SKB yang berisi para buruh ini akhirnya dicap sebagai musuh juga oleh tentara Belanda di Indonesia, KNIL. Mawengkang pun menjadi salah satu orang yang diawasi intel militer KNIL di Balikpapan. Pada 23-24 November 1946, ia ditangkap oleh intel militer pimpinan Kapten Brewer bersama pentolan kelompok anti Belanda lain seperti Mas Sarman dan Mahmoedin Nata.

Setelah penangkapan orang-orang gerakan buruh Republiken itu, beberapa serangan terhadap tentara Belanda terjadi di Balikpapan pada Desember 1946. Kasmani, Anang Acil, Kemis memimpin pemuda-pemuda untuk menyerang posisi tentara Belanda. Beberapa orang militer seperti Abdoellah dan puluhan anggota militer KNIL, diam-diam terlibat—menurut pengakuan Kemis. 

Masih menurut Kemis, Mawengkang dan pimpinan Ikatan Nasional Indonesia (INI), Aminoedin Nata menjadi orang di belakang layar. Meski menewaskan beberapa serdadu dan tiga perwira Belanda, gerakan ini dengan mudah dihalau tentara Belanda. Banyak pemuda yang ditangkapi. Kasmani disebut-sebut sebagai jenderal pemberontak oleh NICA Belanda.

Pada bulan-bulan berikutnya, kaum buruh di Balikpapan yang masih dibiarkan berkeliaran oleh pemerintah NICA Belanda tetap bersikukuh menjadi warga negara Republik Indonesia. Pihak buruh Balikpapan menjaga hubungan dengan kaum Republiken yang berada di Ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta. Soeara FONI nomor 14 (03/03/1947) menyebut, Gubernur Kalimantan Ir. Gusti Muhamad Noor yang berkantor di Yogyakarta berusaha mengundang dua wakil SKB Balikpapan untuk menghadiri kongres yang diadakan oleh Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang akan diadakan pada 16-18 Mei 1947.

Setelah Belanda kalah, kaum buruh di Balikpapan masih tetap jaya. Bukan hanya ada SKB saja di Balikpapan, tapi juga ada Persatuan Buruh Minyak (Perbum) Turangan. Pimpinan Perbum di Balikpapan adalah Turangan. Sebelum 1965, Balikpapan tetap kota buruh. Sekitar 1965, Perbum dekat dengan PKI dan banyak anggotanya kena sikat setelah 1966.

Setelah zaman orde baru, Balikpapan nyaris tak disebut kota buruh meski makin banyak buruh di sana. Tak hanya itu, keterlibatan buruh minyak Balikpapan zaman revolusi hampir tak berjejak. Kota Balikpapan hingga hari ini tak punya museum untuk buruh minyak dan warga sipil kota yang berjuang melawan tentara Belanda. Sementara itu, Angkatan Darat yang di masa revolusi nyaris tak terdengar di Balikpapan melawan tentara Belanda, malah sudah bikin Museum Kodam Mulawarman di Balikpapan. ***

Reporter : Inara | Tirto    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0