23 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ini Tiga Penyebab Utama Banjir Bontang


Ini Tiga Penyebab Utama Banjir Bontang
Air banjir sudah mulai memasuki kawasan RT 22 Kelurahan Api-Api, Kota Bontang sejak pukul 01.00 Wita dini hari, Selasa (4/6). FOTO; SAID NR/KLIKBONTANG.com

KLIKBONTANG.com -- Banjir besar yang melanda Bontang pada 4-5 Juni 2019 lalu agaknya menyadarkan seluruh warga kota. Bahwa persoalan ini cukup darurat untuk dicari problem solving-nya. Karena bila terus dibiarkan. Tak menutup kemungkinan, banjir lebih ganas, atau intesitas Bontang digenang banjir akan semakin kerap.

Pemkot Bontang lantas tancap gas. Di hari perdana kerja usai libur panjang lebaran. Pemkot segera menggelar rapat koordinasi (rakor) penanggulangan banjir Bontang, Senin (10/6/2019) lalu. Hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Bontang, serta Camat dan Lurah se-Kota Bontang dilibatkan.

Namun sebelum perumusan strategi, guna menanggulangi banjir. Perlu kiranya dipahami, duduk persoalan banjir di Bontang. Berdasar hasil pemaparan pada rakor lalu. Diketahui, ada tiga faktor yang menyebabkan bencana ini.

Pertama, banjir kiriman. Indikasi ini hadir, karena saat Bontang diguyur hujan deras pada 3 Juni 2019 lalu, kota Taman tidak langsung terkena banjir. Namun keesokan harinya, tepatnya 4 Juni banjir tiba-tiba datang.

Dikabarkan bahwa banjir yang ada di Bontang terjadi lantaran volume air di hulu sungai Bontang, yang lokasinya tak jauh dari areal tambang batu bara tidak dapat di kendalikan. Sedang di pintu masuk air dari hulu ke Bontang, tidak terdapat bendungan atau waduk. Untuk menampung, dan kemudian memecahnya secara bertahap ke seluruh aliran sungai Bontang di kota.

Kedua, curah hujan. Sejatinya, meski curah hujan tinggi, bila daerah resapan air, dan sumber aliran air, seperti sungai dan drainase dalam kondisi baik. Maka banjir dapat dihindarkan. Jadi soal, sebab aliran sungai di Bontang tak normal lantaran banyak bangunan liar yang berdiri diatasnya.

Bangunan liar yang berdiri di bantaran sungai, menjadikan sungai menyempit. Dan ketika hujan, banyak sampah dan pasir yang ikut hanyut, lantas tak bisa disapu, namun justru menumpuk sungai. Karena bangunan liar itu menghambat kelancaran aliran sungai. Walhasil, jadilah pendangkalan sungai (sedimentasi).

Hematnya, ketika curah hujan tinggi, sungai tak mampu mengalirkan air hujan tersebut secara lancar ke laut. Sudah lagi alirannya terhambat, ditambah lagi sungai yang dangkal. Maka praktis, ketika hujan deras, air lantas meluber dan menggenangi permukiman warga.

Semakin menggemaskan lagi. Sebab daerah resapan air dan ruang terbuka hijau (RTH) yang kurang. Padahal ini sangat penting agar air hujan dapat terserap dengan optimal kembali ke tanah.

Diakui atau tidak, kurangnya daerah resapan air dan RTH di Bontang merupakan dampak nyata dari laju pembangunan. Semua orang sibuk membangun, ini dan itu, namun dampak pada alam dikesampingkan.
Itu sebabnya, penting bagi seluruh warga kota, tanpa terkecuali, untuk miliki perspektif lingkungan yang baik.

Ketiga, banjir rob. Kepada reporter KlikBontang, Kepala BPBD Bontang, Ahmad Yani menjelaskan. Banjir rob terjadi lantaran permukaan daratan lebih rendah ketimbang permukaan laut. Ini terlihat di kawasan Bukit Indah. Bila air laut pasang, praktis kawan itu langsung dihujam banjir rob.

Sebabnya Ahmad Yani menyarankan Pemkot Bontang membangun tanggul pencegah banjir rob. Di tanggul itu pula, diharapkan terdapat pintu air yang dapat ditutup atau dibuka kapanpun. ***

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0