19 Agustus 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Asal Cukur Rambut Siswa, Guru di Banyuwangi Dilaporkan Polisi


Asal Cukur Rambut Siswa, Guru di Banyuwangi Dilaporkan Polisi
Ilustrasi pemotongan rambut anak | No-Te Eksarunchai /Shutterstock

KLIKBONTANG.com -- Beredar di media sosial berita tentang siswa sekolah dasar (SD) yang rambutnya dicukur secara asal oleh pihak sekolah.

Para siswa tersebut adalah pelajar Sekolah Dasar Negeri 2 Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Rambut mereka dicukur paksa atas perintah oknum guru berinisial AAS di SDN tersebut.

Sebabnya, AAS yang merupakan guru ekstrakurikuler bela diri menganggap rambut anak-anak lelaki tersebut kurang pendek. Dia pun memerintah tiga pelatih bela diri dari Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) berinisial R, R, dan J untuk memotong asal rambut anak didiknya pada Jumat, 8 Maret 2019 sekitar pukul 15.00 WIB.

Usai memberi perintah, AAS yang masih berstatus honorer, meninggalkan lokasi untuk mengantar sang pacar. Akibat kejadian ini, setidaknya 20 murid yang berasal dari kelas 3, 4, dan 5 pulang dengan rambut cepak tak beraturan. Salah seorang siswa bahkan mengalami luka gores pada kepalanya.

Hal ini pun membuat para siswa merasa malu dan tak mau pergi ke sekolah keesokan harinya. Orang tua pun mengaku tak terima atas perlakuan guru tersebut terhadap anak-anaknya. Mereka akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polsek Rogojampi, pada Senin (11/3/2019). Kapolsek Rogojampi, AKP Agung Setya Budi langsung melakukan pemeriksaan terhadap anak-anak tersebut.

“Jumat sore itu, anak saya latihan PSHT (bela diri) di sekolah. Sepulang dari situ anak saya langsung masuk ke kamar dan menangis. Setelah saya lihat ternyata rambut anak saya sudah dicukur petal,” kata Mustono salah seorang wali murid kepada Beritajatim, Senin (11/3).

Pihak Sekolah SDN 2 Patoman membenarkan adanya kasus pencukuran siswa ini. Namun, sekolah membantah hal itu merupakan instruksi mereka.

Kepala Sekolah SDN 2 Patoman, Muhamad Badir, mengaku tak pernah menginstruksikan kepada guru untuk mencukur rambut siswa. Dirinya hanya mengingatkan kepada wali murid agar memotong atau menata rambut siswanya pada Jumat (8/3).

Pihak sekolah telah melaporkan tindakan AAS kepada jajaran Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan tingkat kecamatan hingga Dinas Pendidikan Banyuwangi.

Kendati demikian, hingga saat ini pun pihak sekolah belum menjatuhkan sanksi kepada AAS. Badir menjelaskan bahwa hukuman berupa skorsing tersebut merupakan kewenangan dari Dinas Pendidikan Banyuwangi. AAS yang ditemui Kumparan di Koramil Rogojampi tak mau memberikan komentar apapun.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendy mengaku belum mendapatkan adanya laporan soal kasus tersebut.

"Saya belum mengetahui perihal pemotongan rambut ngawur tersebut. Belum baca juga," kata Mendikbud Muhajir sesaat setelah meninjau sekolah yang terdampak banjir di Ponorogo, seperti dikutip Kumparan, Selasa (12/3).

Karena belum ada laporan, jelas Muhajir, Kemendikbud belum akan mengambil tindakan apapun.

Hukuman cukur dianggap tak pantas

Ketakutan para orang tua soal hukuman cukur asal yang dapat menganggu psikologis anak pun pernah dibenarkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

“Kita harus lihat konteksnya. Kalau cukur rambut itu secara tuntas dan pantas saya kira (tindakan guru) enggak dianggap sebagai pelanggaran. Tidak sedikit guru cukur rambut enggak tuntas sebagai bentuk punishment. Itu yang sebenarnya yang enggak pantas,” jelas Susanto, seperti dilansir laman resmi kpai.go.id (4/1/2016).

Komisioner KPAI Susanto pun menegaskan, guru bisa memberi teguran kepada siswa dengan cara yang lebih edukatif lagi. Hukuman untuk mendisiplinkan pun dianggap membutuhkan formula baru.

Hal ini disampaikannya saat menanggapi kasus serupa yang terjadi pada 2012. Seorang guru berinisial AS yang mengajar di SDN Panjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat, nyaris dijebloskan ke dalam penjara dengan pidana percobaan karena mencukur rambut siswanya yang berambut gondrong.

Tidak terima, salah satu orang tua siswa, mencukur balik rambut AS dan mempolisikannya. AS didakwa dengan UU Perlindungan Anak. Dia dinilai telah melakukan perbuatan diskriminasi dan penganiayaan terhadap anak dengan melanggar melanggar Pasal 77 huruf a UU Perlindungan Anak, Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak, dan Pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan hingga sang guru terancam 5 tahun penjara. ***

Reporter : Inara Dafina    Editor : Said NR



Comments

comments


Komentar: 0