18 Januari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sudah Lebih dari Sepekan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik hingga 100 Persen


Sudah Lebih dari Sepekan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik hingga 100 Persen
Sejumlah komoditi sayur mengalami kenaikan harga sejak sepekan terakhir. (Dok)

KLIKBONTANG.COM - Lebih dari sepekan harga sayur mayur merangkak naik. Kondisi ini tercermin pada sejumlah pasar tradisional di Bontang. Yakni Pasar Citra Mas Loktuan dan Pasar Rawa Indah.

Harga komoditas sayuran yang naik diantaranya kol, wortel, tomat, dan bawang merah. Dikatakan pedagang, harga barang tidak langsung naik drastis. Tapi perlahan hingga harganya naik hampir 100 persen. 

Misalnya kol semula berharga Rp 7 ribu per kilogram, lalu naik menjadi Rp 10 ribu, dan kini bertahan di angka Rp 13-15 ribu. Tomat sebelumnya Rp 6-8 ribu kini Rp 15 ribu per kilogram.

Begitu pula pada bawang merah. Awalnya pedagang menjualnya dengan harga Rp 20-25 ribu, kini melambung jadi Rp 35-40 ribu per kilogramnya.

Namun dari seluruh komoditas yang naik. Wortel yang harganya paling meroket. Sebelumnya wortel dibandrol Rp 15 ribu per kilogram. Kini naik jadi Rp 23-26 ribu. Kenaikan harga wortel terjadi dalam waktu singkat. Sekira 3-4 hari terakhir. 

Rosman (38) pedagang di Pasar Citra Mas Lok Tuan menjelaskan, kenaikan ini disebabkan beberapa faktor. Yakni pasokan kurang dan distribusi terhambat akibat cuaca buruk. 

Komoditas sayuran umumnya dipasok dari Sulawesi dan Jawa. Seperti bawang merah. Komoditas ini  dipasok dari jawa dan Sulawesi. Tapi di jawa saat ini tidak memanen bawang merah. Maka pasokan semata bergantung dari Sulawesi. Persoalannya, bawang merah Sulawesi cenderung lebih mahal ketimbang jawa. Apalagi pasokaannya terbatas. 

Petani dan distributor bawang merah Sulawesi harus membagi barang yang jumlahnya terbatas ke banyak daerah. Walhasil, terjadilah lonjakan harga karena pasokan dan kebutuhan tidak imbang. 

Kemudian untuk tomat, kol, dan wortel juga sama. Kebutuhan ini dipasok dari Jawa dan Sulawesi. Anomali cuaca seperti hujan tiba-tiba yang belakangan terjadi, buat petani tak bisa memanen sayur di waktu tepat. Petani tak berani panen sayur mayur di musim penghujan. Pasalnya, bila sayur terkena guyuran hujan bakal mengakibatkan sayur cepat rusak. Lebih parah lagi, dapat mengalami pembusukan ketika masih dalam proses distribusi. 

Kemudian, distribusi sayuran juga terhambat akibat angin kencang. Banyak kapal yang tidak berani atau menunda berlayar karena angin kencang.  Beberapa petani dan distributor mengakali kondisi ini dengan mengganti moda transportasi pemgiriman. Yakni pesawat terbang. 

Namun tentu, sayuran yang dimuat sangat terbatas. Dan juga, biaya angkutnya berkali lipat lebih mahal ketimbang kapal laut. 

"Makanya kami jual yang ada aja ini. Kasian juga liat pembeli ngeluh harga mahal. Tapi mau diapa. Kalau cuaca kita tidak bisa sudah kita komen," jelas Rosman. (*)

Reporter : Fitri Wahyuningsih    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0