16 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Viral di Medsos, Profesi Tukang Pijat hingga Ditawari Youtuber China


Viral di Medsos, Profesi Tukang Pijat hingga Ditawari Youtuber China
Ilustrasi: Fanpage Nurhadi-Aldo di Facebook | /Facebook

KLIKBONTANG.com-- Masyarakat dihebohkan dengan poster pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia, Nurhadi dan Aldo (Dildo), yang muncul di media sosial. Capres dan cawapres yang mengaku dari nomor urut 10 dengan diusung dari koalisi "Tronjal-Tronjol Maha Asik" tersebut mendadak viral di jagat maya.

Pasangan capres dan cawapres Dildo tersebut tentunya cuma sekadar guyonan belaka. Tidak ada maksud buruk atau bahkan harapan untuk memperkeruh suasana. Capres dan cawapres fiktif ini hanyalah "intermezzo" sebagai langkah kecil untuk meredam suasana menjelang Pilpes 2019 yang terus saja memanas di media sosial.

Munculnya capres dan cawapres guyonan tersebut tak lain adalah bentuk kejengahan segelintir masyarakat dengan pertarungan politik Pilpres 2019 yang kian meruncing. Siapakah sebenarnya capres fiktif, Nurhadi yang belakangan tenar di Facebook, Instagram hingga Twitter itu? Ya, Nurhadi memang benar ada di kehidupan nyata.

Nurhadi ternyata berprofesi sebagai tukang pijat refleksi yang mendiami salah satu kios di Pasar Brayung, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bapak empat anak asal Desa Golantepus RT 6 RW 4, Kecamatan Mejobo, Kudus itu telah 15 tahun berprofesi sebagai tukang pijat.

"Saya malah tidak tahu dan tidak kenal siapa cawapres pasangan saya itu," tutur Nurhadi, Pria kelahiran Kudus, 10 Agustus 1969 kepada Kompas.com, Minggu (6/1/2019).

Menurut Nurhadi, pasangan capres dan cawapres Dildo adalah hasil imajinatif seorang warga yang mengaku berasal dari Yogyakarta. Pada Desember 2018 lalu, seseorang yang mengaku bernama Edwin asal Sleman DIY, menghubunginya via aplikasi messenger. Dalam obrolan itu, Edwin mengaku sangat mengagumi Nurhadi.

Awalnya, beberapa tahun lalu, melalui akun Facebook pribadi, Nurhadi membentuk "Komunitas Angka 10". Di komunitas yang disebutnya sebagai para pecinta Tuhan dengan anggotanya yang telah mencapai ribuan itu, Nurhadi sering mengunggah kalimat bijak dan kalimat motivasi.

"Nah, kemudian ada orang yang mengaku dari Yogyakarta bernama Edwin. Dia yang mengikuti akun saya itu mengaku ngefans dengan saya. Apalagi pengikut saya di komunitas angka 10 mencapai puluhan ribu. Kata dia, unggahan-unggahan saya itu lucu dan menginsiprasi," kata Nurhadi.

Dari situlah kemudian capres dan cawapres bayangan, Nurhadi dan Aldo (Dildo) mulai tercipta. Edwin terus intens berkomunikasi dengan Nurhadi. Saat itu, Edwin meminta izin kepada Nurhadi apakah berkenan jika nama dan wajahnya diviralkan melalui medsos sebagai capres fiktif.

Nurhadi pun mengamini penawaran itu asalkan tidak melanggar hukum dan agama. Apalagi, mereka sama-sama jengah atas situasi menjelang Pilpres 2019 yang menurut mereka sudah tidak sehat.

Maka, terbentuklah capres dan cawapres fiktif tersebut di medsos hasil karya Edwin yang disebutnya sebagai tim suksesnya. Capres-cawapres fiktif itu hanya sebatas "dagelan politik" yang berisi sindiran-sindiran dengan politik saling sikut saat ini.

"Saya jawab, kenapa harus saya kok tidak orang lain saja. Kata Edwin sih saya lebih berpotensi tenar karena dikenal banyak pengikutnya. Ya sudah saya setuju dengan syarat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebagai humor politik saja untuk meredam ketegangan suasana Pilpres 2019. Saya enggak mau terjadi keributan hanya karena beda pilihan presiden," ungkap Nurhadi.

Mengapa koalisi yang mengusung capres dan cawapres boneka itu dinamai Tronjal-Tronjol Maha Asyik, Nurhadi mengaku itu bukan asal-asalan. Ada makna mendalam di baliknya. Begitu juga dengan angka 10 yang menandai nomor urut pasangan Dildo.

Tronjal-Tronjol, katanya, lebih tepat disematkan untuk orang bodoh. Bukannya akhir-akhir ini banyak ditemui warganet yang seenaknya sendiri tronjal-tronjol saat mengunggah status di akun media sosialnya tanpa didasari fakta dan etika.

"Tronjal-tronjol Itu seperti kondisi sekarang. Banyak orang asal ngomong dan timbul berita hoaks di sana-sini. Kata itu untuk orang bodoh. Ya sindiran saja biar orang lebih berhati-hati kalu ngomong di publik. Untuk angka 10 diambil dari komunitas angka 10 akun saya. Artinya keikhlasan kepada Tuhan atau para pecinta Tuhan," ungkapnya.

Tak disangka-sangka jika apa yang diharapkan oleh Edwin menjadi kenyataan. Sampai saat ini, unggahan dari akun media sosial capres dan cawapres Nurhadi dan Aldo (Dildo) selalu ramai.

Akun Instagram @nurhadi_aldo yang sebagian besar mengunggah meme kocak bergambar Nurhadi Aldo itu sampai Minggu (6/1/2018) malam telah diikuti oleh 209 K pengguna Instagram.

"Alhamdulilah mendadak viral beberapa hari ini. Saya pun kaget. Saya juga tidak pernah ketemu dengan yang mengaku bernama Edwin itu. Belakangan banyak yang menghubungi dan menemui saya sekadar ngobrol dan mengaku ngefans. Bahkan order pijat ramai. Saya pun manfaatkan untuk jualan kaos bergambar saya itu di medsos. Laku keras juga. Banjir orderan pijat dan jualan kaus pokoknya. Hehe," terang Nurhadi.

Karena ketenarannya di medsos itu sampai-sampai ada tim sukses pasangan capres 2019 yang mendatangi Nurhadi. Nurhadi ditawari untuk menjadi juru kampanye pasangan capres 2019.

"Timses capres 2019 datang dan menawari saya untuk kampanye calon presidennya. Saya tidak mau. Untuk apa? Lha wong saya itu cuma tukang pijat. Semula di komunitas angka 10, saya hanya mengajak warga untuk baca salawat, mencintai Allah," jelasnya

Bahkan, Nurhadi menyebut juga dilirik Youtuber asal China. Hal itu diketahuinya setelah ada orang yang mengaku bernama Tabita menghubunginya.

"Jadi ada Youtuber asal China yang siap merekam saya lewat video dan memviralkan saya. Tabita adalah orang yang menjadi perantaranya. Saya kaget. Tapi tak masalah asal dimanfaatkan dengan baik," ujar dia.

Meski sudah banyak dibicarakan oleh warganet, Nurhadi tetaplah Nurhadi yang bersahaja. Dia setiap hari masih memijat siapa saja yang membutuhkan jasanya dengan upah seikhlasnya.

Sebagai penduduk Indonesia, dia tidak berharap lebih kepada siapa nanti yang bakal terpilih sebagai presiden pada Pemilu 2019. Yang jelas, Presiden yang terpilih harus bekerja sebagai pelayan masyarakat secara sungguh-sungguh, jujur, amanah, adil, dan bijaksana.

"Siapa pun presidennya harus kita dukung karena itu pilihan mayoritas. Presidennya harus baik, begitu juga warganya harus baik," tutur pria berkumis itu mengutip Kompas.com.

Nurhadi membuka tempat pijat di Pasar Brayung Mejobo, sekaligus melayani jual jus jamu mulai dari pukul 08.00-13.00 WIB.

Tapi, dia siaga 24 jam bila dipanggil untuk memijat. Nurhadi juga aktif dengan radio amatirnya. Bahkan melalui hobi mengudara ini, dia mendapatkan banyak banyak kenalan. "Kebanyakan pasien saya capek dan pegal-pegal," katanya.

Katarsis atau Jadi Apatis

DALAM wawancara dengan Pikiran Rakyatdi Bandung, 3 Januari 2019 anak-anak muda yang identitasnya tak ingin diungkap ini menyebut pemikiran menciptakan pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif berangkat dari kegerahan pada kampanye hitam. Pemilu yang semestinya dimaknai sebagai media pembelajaran menuju kedewasaan dalam berdemokrasi justru jadi ajang kelahi.

Alih-alih mengikuti langkah Guruh Soekarnoputra yang melahirkan komposisi-komposisi dahsyat dan rumit dalam Guruh Gipsy untuk melawan kegerahannya terhadap arah musik Indonesia yang kebarat-baratan pada pertengahan tahun 1970-an, para anak muda ini justru mengambil jalan lain. Jalan komedi, lewat humor politik.

Di satu sisi, ini pilihan brilian. Pada Pemilu Amerika Serikat edisi mutakhir yang dimenangkan Donald Trump, humor politik menjadi primadona. Survei perusahaan analisa siaran televisi, Jumpshot, pada hari hari menjelang pencoblosan, warga Amerika Serikat meninggalkan program debat serius dan beralih ke bincang bincang satire. The Late Show with Stephen Colbert berada di peringkat pertama, disusul The Daily Show with Trevor Noah,The Tonight Show starring Jimmy Fallon, dan Jimmy Kimbel Live.

Perusahaan analisa siaran televisi lainnya, Alphonso, menyebut fenomena ini berkaitpaut erat dengan kenyamanan. Humor politik menyasar psikologis para pendukung kandidat dan membuat ketegangan di antara mereka mencair. Hanya pada acara-acara tersebut, pendukung Trump dan Hillary Clinton bisa saling ejek dan saling tertawa tanpa tendensi kebencian.

Keberadaan Nurhadi-Aldo menghadirkan fenomena serupa. Guyonan-guyonan mereka, mulai dari soal ideologi, ekonomi, pemerintahan, sepakbola, hingga hoaks dan segala bentuk singkatan dan akronim ajaib, ditanggapi meriah.

Tengoklah ke akun-akun mereka di Facebook,InstagramTwitter, dan YouTube, nyaris seluruhnya diwarnai tawa. Tentu ada juga suporter garis keras Jokowi dan Prabowo yang nyasar ke sana dan mencoba menyuntikkan pandangan. Yang seperti ini biasanya akan mundur lantaran balik diserang oleh para pengikut Nurhadi-Aldo dengan humor-humor yang tak kalah lucunya.

Begitulah Nurhadi-Aldo, menjadi semacam katarsis. Mereka hadir secara dramatis di tengah luapan emosi yang membekap kedua kubu kontestan. Siapapun kini, siapapun yang merasa gerah pada perseteruan suporter Jokowi dan Prabowo yang makin kerap mempertengkarkan hal-hal tak logis, akan merasa punya pelarian.

Nurhadi-Aldo, dalam beberapa kesempatan, bahkan bisa menjelma antitesis yang secara menakjubkan mampu menyatukan pihak-pihak bertikai. Bukan sekadar lewat kekonyolan-kekonyolan. Lebih jauh, mereka juga memberi contoh perihal cara berkampanye yang benar dan sehat.

Namun di lain sisi, keduanya juga bisa mengancam demokrasi. Popularitas Nurhadi-Aldo yang makin menjulang dikhawatirkan membuat apatisme terhadap pemilu menguat. Apatisme yang berpotensi meningkatkan persentase jumlah kelompok golput.

Sekilas pintas kekhawatiran seperti ini kelihatan berlebihan. Bagaimana mungkin karakter-karakter fiktif, karakter dagelan, bisa membawa pengaruh pada pemilu? Jawabannya, bisa saja. Kenapa tidak? Bagi sebagian masyarakat Indonesia, politik terlanjur dipandang buruk dan kotor. Yakni, satu proses tipu-tipu yang menghasilkan para penipu.

Dekat dekat pemilu, politisi kita bermetamorfosis jadi makhluk paling sempurna: tampan/cantik, pintar, tegas, berwibawa, bersih, jujur, amanah, anti korupsi, kaya, dan merakyat. Mereka mendadak bijak dan berlagak suci tanpa dosa. Tiap-tiap kata, sikap, dan tindakan, dijaga betul hingga tak lari barang sedikitpun dari citra kesempurnaan tadi.

Aksi tipu-tipu model begini, lantaran telah berkali-kali ketahuan ngawur dan ngibul, jadi basi; dan membuat angka golput dari pemilu ke pemilu jumlahnya terus bertambah. Sekarang pun kondisinya tidak berbeda.

Kengawuran demi kengawuran, pengibulan demi pengibulan, tetap dikedepankan dengan tampilan yang makin memuakkan. Lalu, datanglah Nurhadi-Aldo yang ngawur dan ngibul dengan seterang-terangnya, sejujur-jujurnya; dan ternyata, banyak yang jatuh cinta.

Ini jelas alamat bahaya bagi kubu 01 dan 02. Alamat bahaya bagi para calon anggota legislatif. Alamat bahaya bagi partai-partai.

Apabila mereka tidak buru-buru mengubah siasat tempur dan tetap saling gempur dengan mengetengahkan isu yang itu-itu saja, Nurhadi-Aldo akan makin mendapatkan cinta. Dan makin dalam cinta hakikatnya bisa membuat orang lupa. Lupa bahwa Nurhadi-Aldo adalah dagelan. Sekadar lucu-lucuan bisa jadi betulan. Alamak!

Reporter : Said NR | Berbagai Sumber    Editor : KLIKGROUP



Comments

comments


Komentar: 0