17 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ogah Lepas Jilbab, Miftahul Terdiskualifikasi


Ogah Lepas Jilbab, Miftahul Terdiskualifikasi
Pejudo putri Indonesia, Miftahul Jannah, meninggalkan arena setelah didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kilogram blind judo dalam Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 8 Oktober. ANTARA/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan

KLIKBONTANG.COM - Atlet judo putri Indonesia Miftahul Jannah terdiskualifikasi dari pertandingan judo tuna netra Asian Para Games 2018 yang berlangsung di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Senin.

Ia dicoret karena enggan mengikuti aturan pertandingan yaitu melepas jilbab. Miftahul mendapatkan diskualifikasi dari wasit karena ada aturan wasit dan aturan pertandingan tingkat internasional di Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA) bahwa pemain tidak boleh menggunakan jilbab dan harus lepas jilbab saat bertanding.

Penanggung jawab pertandingan judo Asian Para Games 2018 Ahmad Bahar mengatakan Miftahul enggan melepas jilbab ketika bertanding karena tidak mau auratnya terlihat lawan jenis.

"Kami sudah mengarahkan atlet, tapi dia tidak mau. Bahkan, dari Komite Paralimpiade Nasional (NPC), tim Komandan Kontingen Indonesia sudah berusaha dan mendatangkan orang tua dari Aceh untuk memberi tahu demi membela negara," katanya tentang dukungan kepada atlet tuna netra itu.

Atlet berusia 21 tahun itu, menurut Bahar, telah menginjak matras pertandingan dan enggan melepas jilbab pada pertandingan kelas 52 kilogram. Hal yang perlu ditekankan adalah juri bukan tidak memperbolehkan kaum muslim untuk ikut pertandingan. Aturan internasional mulai 2012, setiap atlet yang bertanding pada cabang judo tidak boleh berjilbab karena dalam pertandingan judo ada teknik bawah dan jilbab akan mengganggu.

Bahar menjelaskan keberadaan jilbab atlet berpotensi dimanfaatkan lawan untuk mencekik leher dan berakibat fatal bagi sang atlet yang menggunakan jilbab.

"Kami menerima aturan bukan tidak boleh atlet pakai jilbab, bukan seperti itu. Tidak diperbolehkan menggunakan jilbab karena ada akibat yang membahayakan," kata Bahar.

Terpisah, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Senny Marbun minta maaf atas tidak tampilnya pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah dalam gelaran Asian Para Games 2018. Senny mengakui peristiwa tersebut merupakan kesalahan pihak NPC.

"NPC sangat malu dan tidak mengharapkan ini terjadi. Saya akui NPC bersalah karena ini keteledoran kami juga," ujar Senny, dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Agustus 2018.

Menurut Senny, regulasi itu bersifat global. Tidak hanya berlaku pada Asian Para Games 2018, tapi juga event internasional lainnya. "Jadi begini, judo itu sangat dekat satu sama lain. Apalagi, ini kategori blind. Nah, dikhawatirkan saat pergerakan dapat menyebabkan pejudo tercekik lehernya. Keselamatan jadi faktor utama federasi judo internasional dalam membuat regulasi tersebut," jelas Senny.

Meski begitu, Senny akan melakukan evaluasi supaya insiden tersebut tidak terulang. Selain judo, ada cabang olahraga renang yang memang tidak membolehkan atribut di kepala.

Direktur Sport Inapgoc Fanny Irawan mengatakan polemik ini telah selesai. Semua pihak menyadari kesalahannya. "Saya salut dengan NPC yang mengakui keteledorannya dalam memahami regulasi. Pemimpin seperti Senny Marbun ini patut dijadikan tauladan. Jadi semua telah clear. Mari kita terus memberi semangata kepada para atlet kita," kata Fanny.

Sementara Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Mulyana juga menghimbau persoalan ini tidak perlu diperdebatkan. "Jangan sampai mempengaruhi semangat dan fokus atlet. Ketidakpahaman regulasi ini jadi pelajaran berharga buat kita semua," kata Mulyana. (*)

Reporter : Omar NR | Berbagai Sumber    Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0