16 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Dividen BME ke Pemerintah Cuma Rp 700 Juta selama Berdiri?


Dividen BME ke Pemerintah Cuma Rp 700 Juta selama Berdiri?
Selama berdiri, BME diduga hanya membagi keuntungan Rp700 juta.

KLIKBONTANG.COM - Laporan hasil deviden atau bagi untung kepada pemilik saham PT Bontang Migas dan Energi (BME) janggal. Laporan hasil wawancara wartawan dengan Direktur BME Kasmiran Rais, pada 2016 lalu BME menyetor keuntungan ke Pemkot sebesar Rp 495 juta. Keterangan dari Wakil Walikota, Basri Rase juga membenarkan adanya deviden dari BME ke Pemkot tahun itu.

“PT BME menyumbang Rp 495 juta ke kas daerah dengan keuntungan sebesar Rp 1,1 miliar,” kata Direktur Kasmiran saat itu ditemui di ruangan kerjanya, Selasa (14/8) siang saat itu.

Komisaris BME, Agus Wijaya membantah pada 2016 lalu BME menyetor deviden sebesar Rp 495 juta. Kata dia, bagi untung kepada pemilik saham harus sesuai dengan jumlah saham masing-masing investor.

Koperasi Praja memiliki saham 1 persen di BME. Pada 2016 lalu, Koperasi Praja hanya menerima Rp 2 juta dari deviden BME. Artinya, keutungan perusahaan saat itu hanya Rp 200 juta (1 persen dari keuntungan). Bukan Rp 495 juta seperti selama ini diberitakan.

“2015 kami dapat Rp 5 juta karena deviden ke Pemkot Rp 500 juta memang benar. Nah, kalau 2016 itu yah tinggal hitung saja berapa yang kami (Koperasi Praja) terima,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Koperasi Praja sejak 2008 lalu ini.

Pemilik saham BME mayoritas dikuasai oleh Pemkot Bontang dengan jumlah saham 99 persen. Pemerintah harus menggandeng pihak swasta lantaran tuntutan regulasi pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Modal saham Koperasi Praja sebesar Rp 30 juta atau 1 persen dari total seluruh modal awal Rp 3 miliar.

“Jadi total deviden yang diberikan pada 2015 dan 2016 sebesar Rp 700 juta,” kata Agus menegaskan.

Lebih lanjut, deviden untuk 2017, kata Agus Wijaya tak ada. Bahkan perusahaan tercatat merugi akibat biaya operasional lebih besar ketimbang laba yang diterima. Kondisi tersebut, sepertinya bakal berjalan hingga tahun ini. Apabila BME tak mampu mencari peluang bisnis lainnya.

“Yah bisa pas-pasan atau merugi kalau tidak ada solusi lainnya,” ujarnya.

 

Direktur BME dan Sekretaris Tak Sinergi

RUANGAN Sekretaris Perusahaan PT BME, Chresty Manangkoda rapi. Ruangannya sempit, hanya muat untuk satu meja dan dua buah kursi berhadapan. Di atas meja bersih, tak ada tumpukan berkas dan dokumen. Di sudut ruangan, ada keranjang sampah tanpa isi di dalamnya dan rak sepatu dengan sepasang sendal japit.  

Ruangan ini baru ditempati sehari aku Chresty kepada wartawan saat ditemui, Selasa (18/9) siang. Dia baru saja menghadiri undangan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPRD Bontang. Rapat ditunda akibat Direktur BME, Kasmiran tak bisa hadir.

“Infonya sih (Direktur) ke Balikpapan, tak ada juga ngomong ke saya,” ujar Chresty mengeluh kepada wartawan.

Mantan Anggota DPRD Bontang ini menuturkan, dirinya mulai bekerja sebagai sekretaris perusahaan sejak Oktober 2017 lalu. Selang dua bulan setelah Direktur Kasmiran dilantik. Selama menjabat, Chresty tak mengetahui banyak mengenai perusahaanya.

Infomasi keuangan dan laporan kerja hanya secuil yang dipahami. Itupun diterima sendiri, saat menghadiri rapat internal perusahaan. Media ini mencoba menggali laporan keuangan berdasarkan data dari Komisaris BME. Sayangnya, Chresty tak bisa menjawab banyak.

“Lihat sendiri kan, saya tak bisa menjawab pertanyaan soal keuangan dan laporan kerja. Karena saya memang tidak dapat laporan itu,” kata wanita yang juga ikut serta dalam perekrutan Direktur BME tahun lalu.

Sejatinya posisi sekretaris perusahaan sangat strategis. Selain berperan sebagai pembantu Direktur dalam mengelola perusahaan. Sekretaris juga andil untuk menyaring informasi untuk disampaikan ke direktur. Sekretaris memiliki multi tugas, laporan keuangan hingga kerja sama dengan pihak ketiga, dan memberikan masukan bagi direktur.

Sinergi antara direktur dan perusahaan tak berjalan. Chresty tak menampik soal ini, dirinya mengaku tugas-tugas kerja selaku sekretaris perusahaan seperti yang tertuang di dalam kontrak kerja tak berlaku di dalam praktik.

“Di sini ada 4 manajer, Manajer Layanan Umum, Manajer Pembangkit, Keuangan dan Legal. Laporannya tidak ada diserahkan ke saya. Jadi saya tidak tahu soal data-data kerja dan keuangan. Yah seperti inilah kondisinya,” kata Chresty menjelaskan.

Persoalan ini juga menjadi catatan bagi Komisaris BME, Agus Wijaya. Kerugian yang dialami BME, kata Agus, membutuhkan kerja sama internal yang solid agar permasalahan dapat diselesaikan bersama. “Ini (internal) harus solid untuk mencapai target bisnis,” ujar Agus. (*) 

Reporter : Ikhwal Setiawan    Editor : Suriadi Said



Comments

comments


Komentar: 0