16 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

PT BME yang Kini Sakit Parah, Setahun Merugi Rp 400 Juta


PT BME yang Kini Sakit Parah, Setahun Merugi Rp 400 Juta
Seorang warga membuka katub sambungan jaringan gas. (Dok)

KLIKBONTANG.COM – PT Bontang Migas dan Energi (BME) yang dulunya sebuah perusahaan sehat, kini sedang sakit-sakitan. Hasil penelusuran Klikbontang, perusahaan yang dibentuk 7 tahun lalu itu merugi Rp 400 juta di 2017. Jika tak segera diobati, perusahaan pelat merah itu diperkirakan tak akan sembuh dan bisa sakit lebih parah di tahun ini.

Perusahaan ini disilnyalir dilanda persoalan internal. Sehingga tim tak mampu bekerja secara solid. Belum lagi tak ada inovasi untuk menambah pundi pendapatan. Direktur BME, Kasmiran Rais pun dituntut mampu menangani krisis pendapatan yang dialami perusahaannya. Kejelian seorang pimpinan dan team work mengelola perusahaan diharapkan bisa membantu BME keluar dari masa kiritis. 

“Harus ada alternatif pendapatan. Kalau seperti sekarang pasti ‘pak pok’ (merugi),” ujar Komisaris Utama PT BME, Agus Wijaya kepada Klikbontang di ruang kerjanya, Kamis (21/9) siang.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan auditor independen asal Jakarta, kata Agus, kerugian terjadi akibat selisih pendapatan dengan biaya belanja operasional perusahaan. Perhitungan untung rugi perusahaan berdasarkan, selisih antara Laba Operasional (LO) dengan Biaya Operasional. LO merupakan hasil pengurangan antara Pendapatan dengan Harga Pokok Produksi( HPP).

Selama satu tahun, PT BME memproleh pendapatan sebesar Rp 33 miliar. Pemasukan ini bersumber dari tiga pos, yakni operator Jaringan Gas (Jargas) Rumah Tangga untuk 5 ribu sambungan, penyewaan mesin ke PLN, namun sekarang kontrak telah diputus, penghentian kerja sama ini disebut-sebut menjadi sebab kerugian PT BME. Terakhir pos pendapatan dari penjualan energi listrik ke PT Black Bear Resources Indonesia (BBRI).

Namun, rincian pendapatan yang diterima dari masing-masing pos pendapatan tak dapat dibeberkan oleh Agus. Data yang dia terima, hanya menampilkan pendapatan secara akumulatif.

Sedangkan, untuk pos biaya HPP perusahaaan merupakan biaya dikeluarkan perusahaan untuk pembelian Gas dari PT Pertamina Gas (Pertagas) dan biaya sewa mesin dengan pihak ketiga PT Bayu Buana Gemilang (BBG) selaku operator penyuplai kebutuhan listrik PT BBRI. Besaran HPP di tahun lalu sebesar Rp 29,5 miliar.

Artinya, selisih antara Pendapatan dengan HPP sekitar Rp 3,5 miliar. Dana inilah yang tercatat sebagai Laba Operasional BME. Sementara itu, biaya operasional perusahaan membengkak. Dari data yang diterima Agus, cost operation BME sebesar Rp 3,9 miliar. Atau selisih Rp 400 juta dari laba operasional. Selisih tersebut tercatat sebagai kerugian bagi perusahaan.

Agus menjelaskan, defisit Rp 400 juta tersebut tak membuat perusahaan berutang. Untuk menutupi defisit tersebut diperoleh dari saham modal penyertaan. Artinya, modal saham BME yang semula Rp 3 miliar berkurang Rp 400 juta karena defisit keuangan.

Selain itu, BME juga memperoleh bunga deposito dari bank sebesar Rp 84 juta. Dana ini juga diperuntukkan menambal kerugian perusahaan.

“Jumlah kerugian menjadi Rp 400 juta – Rp 84 juta = Rp 316 juta,” ujar dia.

Media ini mencoba mengklarifikasi data yang diperoleh kepada Direktur BME, Kasmiran. Beberapa kali dihubungi tak mendapat respons oleh Kasmiran. Bahkan, dua kali wartawan mencoba berkunjung ke kantornya, Selasa (18/9) dan Kamis (21/9) wartawan tak juga bertemu dengan orang nomor satu di perusahaan pelat merah ini. Penjelasan dari direktur sangat penting, sebab, belum diketahui secara rinci masing-masing pendapatan dan belanja perusahaan. 

Upaya Penghematan Gaji Direktur Rp 32 juta Dipangkas, Katering Karyawan Dihapus  

KERUGIAN yang dialami PT BME menjadi bahan evaluasi. Komisaris Utama, Agus Wijaya mengoreksi beban belanja perusahaan. Pria yang baru mengisi posisi ini Juli lalu, langsung mengambil kebijakan penghematan.

Biaya untuk gaji, tunjangan dan insentif menjadi sasaran utama. Kata Agus, untuk belanja Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan menghabiskan sekitar Rp 2 miliar. Langkah penghematan harus ditempuh, sebab kemampuan keuangan perusahaan minus.

“Gaji Pak Direktur (Kasmiran) sebelumnya Rp 32 juta. Harus dipangkas menjadi Rp 17 juta, itu mulai berlaku sejak Juli kemarin. Selain itu, timpang sekali antara gaji Direktur dengan Manajer atau sekretaris,” ujar Agus kepada Klikbontang.

Artinya, sejak menjabat sebagai Direktur BME hingga Juli kemarin, Kasmiran telah mengantongi Rp 352 juta selama 11 bulan. Namun, pemangkasan gaji dan tunjangan baru diberlakukan terhadap jabatan direktur. Untuk manajer dan tingkat lainya belum alami penghematan.

“Baru satu posisi saja (direktur) kan, yang lainnya belum,” kata Agus singkat.

Besaran gaji dan tunjangan untuk manajer setiap bulanya yakni Rp 8,5 juta. Anehnya, upah yang diterima manajer di BME lebih tinggi daripada uang yang diterima oleh Sekretaris Perusahaan (Sekper). Setiap bulannya, Sekper hanya mendapat Rp 5 juta.

Efisiensi juga dilakukan untuk biaya-biaya non-produktif seperti perjalanan dinas dan uang makan katering. Sayangnya, dia tak menyebutkan jumlah penghematan yang dilakukan. Namun, dipastikan pengurangan kesejahteraan karyawan sudah diberlakukan sejak Juli kemarin. (*)

Reporter : Ichwal Setiawan    Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0