15 Oktober 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Budidaya Jamur di Bontang Kian Menggiurkan


Budidaya Jamur di Bontang Kian Menggiurkan
Narasumber dan peserta pelatihan mempraktikan langsung cara pembuatan baglog sebagai media jamur di di ruang pertemuan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Limau, Bontang Kamis (12/4/2018) pagi. Foto: KLIKBONTANG/Zaenul

KLIKBONTANG.COM – Budidaya jamur di Kota Bontang dianggap menjanjikan. Hal ini mendorong Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKPP) Bontang menggelar pelatihan pembuatan baglog atau media penanaman jamur di ruang pertemuan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Limau, Bontang Kamis (12/4/2018) pagi.

Kepala Seksi Pertanian DKPP Bontang, Debora Kristiani menjelaskan, pelatihan budidaya jamur ini diikuti 30 peserta selama 3 hari dari 11 sampai 13 April, besok. Sementara untuk nrasumbernya Karsadi dan Kristina Sialu Berit dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Samarinda. Mereka sudah berpengalaman budidaya jamur selama 10 tahun.

“Narasumber memberikan informasi dan praktik langsunng ke warga, terkait cara budi daya ini seperti membuat wadah jamur, membuat bibit, kemudian pengolahan pasca panen jamur,” urai Debora.

Alasan pelatihan ini, lanjut Debora, karena pengembangan pertanian ini tidak membutuhkan lahan yang luas seperti pertanian hortikultura atau pangan lainya. Ini sesuai dengan  kondisi geografis di Kota Bontang minim lahan pertanian.

“Kalau ini lahan yang dipakai 3x3 meter saja seperti pekarang rumah bisa, tinggal membuat lumbung atau rumahnya saja,” ujarnya.

Selain itu hasil dari budidaya jamur ini dapat menambah penghasilan bagi warga tersebut, disebutkanya perkilo jamur segar itu di pasaran saat ini dihargai sekira Rp 30 ribu. Jika tidak laku dalam bentuk mentah, tumbuhan ini juga dapat diolah untuk bahan makanan kemudian dijual kembali. “Prospeknya bagus untuk meningkatkan taraf hidup masayrakat,” ucapnya.

Kegiatan serupa telah dilaksanakan pihaknya sebanyak 3 kali. Bahkan, hasilnya sudah terbukti dari beberapa orang yang tekun menjalani ini budidaya jamur berujur kesuksesan. “Harapanya mereka dapat berkembang dari hasil budidaya ini,” harapnya.

Sementara, Kepala DKP3 Aji Erlynawati mengatakan kegiatan ini dalam rangka peningkatan sumber daya manusia. Menurutnya, manusia memerlukan update ilmu, salah satunya melalui kegiatan pelatihan.  Meskipun telah mengikuti pelatihan dengan topik yang sama berulang kali, tetapi inovasi dari pengetahuan tersebut bakal bertambah.

“Ketika pertama kali yang terserap paling 10 persen, tetapi di pelatihan kedua bertambah mengingat ada dasar yang diperoleh dari pelatihan pertama,” ucapnya.

Aji Erlynawati memandang jamur tiram memiliki segudang manfaat terutama bagi penderita diabetes dan kolesterol. Tak hanya itu, budidaya ini juga mampu sebagai ladang sumber penghasilan.

Saat ini jumlah pembudidaya jamur tiram yang aktif berkisar 20 orang. Prospek menjanjikan seiring mulai tingginya permintaan jamur untuk diolah dan dipasarkan. Permintaan ini berasal dari pengusaha lokal.

Ia berharap petani dapat membudidaya jamur serta mengolah secara benar. Mengingat harga yang kompetitif tergantung dari kondisi yang dihasilkan. Jumlah produksi dari jamur tiram sendiri terbilang fluktuatif. Pasalnya jamur tiram kondisinya lebih bagus saat musim panas saja. Bila musim penghujan maka kesegaran akan mengalami penurunan. (*)

Reporter : Zaenul Fanani    Editor : Said NR



Comments

comments


Komentar: 0