19 Februari 2020

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Peluang Poros Koalisi Ketiga Lawan Jokowi dan Prabowo di 2019


Peluang Poros Koalisi Ketiga Lawan Jokowi  dan Prabowo di 2019
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Batu Tulis, Bogor, Selasa (20/2) malam. FOTO/ Istimewa

KLIKBONTANG.COM - Jalan Joko Widodo (Jokowi) kembali maju sebagai calon presiden kian jembar usai dukungan yang diberikan PDI Perjuangan pada Jumat (23/2/2018). Sebelumnya, ada Partai Golkar, Partai, Partai Hanura, Partai Nasdem, dan PPP yang lebih dulu menyatakan kesediaan memenangkan Jokowi pada Pemilu 2019. 

Selain Jokowi, nama yang juga berpotensi menjadi calon presiden ialah Prabowo Subianto. Peluang Prabowo meraih tiket calon presiden terbuka lebar jika skenario koalisi Gerindra—PKS benar terwujud.

Merespons situasi tersebut, sejumlah partai yang belum menentukan calon presiden menyatakan pembentukan poros koalisi baru bisa saja terjadi. “Bisa jadi bergabung ke pemerintah, bisa jadi tidak, atau ada poros baru, kan semua memungkinkan,” kata Ketua Desk Pemilu DPP PKB Daniel Johan, Sabtu (24/2/2018).

Daniel mengatakan berbagai skenario politik bisa terwujud atau berubah sebelum masa pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden berakhir. Ia mengatakan poros koalisi baru bisa terwujud dengan menggabungkan kekuatan PKB, PAN, Demokrat ke dalam satu barisan.

Namun, hingga sekarang PKB belum menentukan calon presiden. Daniel beralasan PKB masih fokus berkonsolidasi dan melihat peluang Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden. “Masih lihat dulu siapa yang cocok [capres-nya]. Kami juga masih pikirkan soal elektabilitas,” kata Wakil Sekretaris Jendral DPP PKB ini.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto menyatakan partainya siap membentuk poros koalisi baru bersama PKB dan Demokrat. Yandri mengatakan poros koalisi itu diinginkan PAN untuk memudahkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menjadi calon presiden. “Bisa juga [bentuk poros koalisi baru] karena [jumlah suaranya] di atas ambang batas mencalonkan presiden. Apalagi kami kan memperhitungkan Bang Zul jadi capres,” ujar Yandri.

Sikap politik PAN menjadi bagian dari pemerintahan bukan jaminan mendukung Jokowi di pemilu presiden mendatang. “Tapi itu kan sekarang. Masih ada pertimbangan-pertimbangan yang perlu diambil. Bisa jadi berubah dengan [merapat ke] koalisi lain,” katanya.

Bagi PAN calon presiden alternatif di luar Jokowi dan Prabowo masih mungkin memenangkan pertandingan. Keputusan tentang calon presiden akan disampaikan dalam forum Rapat Kerja Nasional pada akhir April mendatang.

Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat Imelda Sari menyatakan partainya bisa saja membentuk poros koalisi baru bersama PAN dan PKB untuk Pemilu Presiden 2019. Nama yang akan dimunculkan Demokrat sebagai calon presiden adalah Agus Harimurti Yudhoyono. “Karena seperti kata ketua umum, kami tidak bisa mengajukan sendiri karena ada ambang batas pencalonan presiden,” ujarnya.

Imelda mengatakan pengumuman calon presiden Partai Demokrat akan disampaikan pada 10 sampai 11 Maret dalam forum Rapat Pimpinan Nasional. Di acara itu menurutnya akan hadir pengurus di tingkat daerah, cabang, dan anak cabang. “Saya kira ini sangat dinamis dan komunikasi kita ke semua partai juga cair terutama karena ada Pilkada serentak,” katanya.

Manager riset Lembaga Survei Poltracking Indonesia Ali Rif’an mengatakan Pemilu Presiden 2019 sangat mungkin diikuti tiga poros koalisi: poros Cikeas (Demokrat, PAN, dan PKB), poros Teuku Umar (PDI Perjuangan, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP), poros Hambalang (PKS dan Gerindra).

Menurut Ali poros Cikeas masih berpeluang memenangkan Pemilu Presiden 2019. Hal ini karena berdasarkan survei yang dilakukan Poltracking jumlah pemilih loyal Jokowi masih di bawah 30 persen. Artinya Jokowi tidak serta merta memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran. Situasi yang dihadapi Jokowi berbeda dengan yang dimiliki Susilo Bambang Yudhoyono saat Pemilu Presiden 2009.

Kala itu, SBY berhasil menang satu putaran karena tingkat elektabilitas pemilih loyalnya di atas 60 persen. Apalagi, menurut Ali, tingkat kepuasan masyarakat terhadap SBY saat cukup tinggi. “Strong voters-nya itu, pemilih loyalnya itu, di era SBY sampai 60 persen. Jokowi ini masih 30 persen,” kata Ali.

“Artinya kan ada 70 persen swing voters yang bisa dibawa ke mana-mana. Kalau misalnya Prabowo itu 25 persen, berarti masih ada 45 persen.”

Satu-satunya penghambat terbesar poros baru memenangkan pertarungan adalah menentukan tokoh alternatif capres yang mampu mengambil pemilih tidak loyal Jokowi dan Prabowo. Apalagi survei terakhir Poltracking menunjukkan tren elektabilitas Jokowi dan Prabowo terus meningkat dibandingkan Pemilihan Presiden 2014. 

Peneliti politik CSIS Arya Fernandes menilai munculnya poros politik baru di luar Jokowi dan Prabowo memberi efek positif terhadap kontestasi pemilihan presiden yang sarat ketegangan. Selain itu, tiga poros politik akan semakin meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memilih dalam Pilpres 2019. 

“Biasanya semakin kompetitif, akan membuat orang semakin terdorong memilih. Tapi kalau dua calon dan orangnya sama seperti sebelumnya, kemungkinan orang yang tidak suka dengan keduanya akan golput,” kata Arya.

Arya mengatakan hadirnya calon presiden dari poros politik ketiga juga bisa mengurangi turbulensi dan friksi di masyarakat selama masa kampanye. “Tiga calon yang maju bisa menurunkan tingkat polarisasi massa. Sebab, publik punya alternatif yang bisa mengurangi ketegangan antara dua kubu.”

Namun, menurutnya friksi dan ketegangan di masyarakat juga bergantung pada strategi masing-masing poros selama masa kampanye. Jika isu yang dimainkan berdasarkan SARA dan mengedepankan primordialisme, kata Arya, "friksi dan ketegangan yang ada di masyarakat enggak akan jauh berbeda."

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyatakan dukungan kepada Jokowi sebagai calon presiden di Pemilu 2019. Mega optimistis dukungan ini bisa memenangkan Jokowi dan PDI Perjuangan. 

“Dengan ini saya nyatakan calon presiden dari PDI Perjuangan, Bapak Ir Joko Widodo, Metal! Metal! Pasti Menang Total,” seru Megawati. (*)

Reporter : Ramadhan NR | Tirto    Editor : Imran Ibnu



Comments

comments


Komentar: 0