23 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Potensi Pundi Rupiah, TPI Tanjung Limau Belum Digarap Maksimal


Potensi Pundi Rupiah, TPI Tanjung Limau Belum Digarap Maksimal
Aktivitas jual beli di TPI Tanjung Limau (KLIKBONTANG/ DOK)

KLIKBONTANG.COM - Pengembangan sektor maritim di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot). Langkah awalnya, berupa pembuatan regulasi dasar, untuk melalukan pengembangan pelabuhan, serta dasar retribusi oleh Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPI Tanjung Limau, Robysai M Mallisa menjelaskan, regulasi tersebut berupa rencana induk tentang pelabuhan nelayan, yang dapat mewujudkan optimalisasi pelayanan dan sumbangsih pundi rupiah ke kas daerah.

“Proses pembuatan regulasi induk sudah dilakukan, sejak tahun lalu. Itu merupakan acuan pengembangan TPI,” jelas Roby kepada klikbontang.com belum lama ini.

TPI Tanjung Limau merupakan pusat perekonomian nelayan, tempat berlangsungnya sejumlah kegiatan. Seperti sertifikasi kapal, pembuatan surat keterangan asal ikan, bongkar-muat ikan, hingga pelelangan ikan.

Hanya saja, fungsi tersebut belum sepenuhnya bisa berjalan. Lantaran, keterbatasan infrastruktur yang dimiliki. Seperti sempitnya alur pelayaran, kolam labuh dangkal, hingga terbatasanya tambatan ikan di pelabuhan. Sehingga aktivitas bongkar-muat ikan masih sering berlangsung di pelabuhan di luar TPI.

“Saat air surut terendah, kapal tidak bisa melintas. Akhirnya, jika ada kapal ingin bongkar ikan, dilakukan di luar pelabuhan,” bebernya.

Pembenahan pelabuhan pun akan dilakukan bertahap. Usai regulasi induk rampung, selanjutnya melangkah pada pembenahan alur, kolam labuh, hingga pembangunan infrastruktur pendukung lain, baik di sisi laut maupun darat.

“Pembenahan yang kami lakukan, tentu menyesuaikan kemampuan keuangan pemerintah," tukasnya.

Roby menilai, TPI Tanjung Limau memiliki potensi menghasilkan uang bagi daerah. Posisi yang terletak di tengah kota salah satu alasannya. Dengan posisi tersebut, setelah bongkar ikan telah rampung, para nelayan dan awak kapal masih bisa berwisata, belanja, hingga mencari pusat kuliner.

Lantaran, jarak tempuh ke objek tersebut dapat dilalui dalam hitungan menit. “Kalau di TPI Tanjung Limau, naik ke darat, mereka akan ketemu Ramayana, KFC, bahkan tempat hiburan juga bisa ditempuh dalam hitungan menit. Dermaga lain, seperti Berbas Pantai, juga bisa langsung ketemu pasar malam, dan pusat perbelanjaan lain di sekitarnya,” tuturnya.

Hal itu jauh berbeda ketika dibandingkan dengan TPI milik Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kata dia, bahkan saat pukul 19.00 Wita sudah tidak ada aktivitas. Lantaran terletak jauh dari pusat kota.

Pangsa pasar yang luas, lanjut dia, juga menjadi alasan para nelayan memilih Kota Bontang, sebagai tempat mendaratkan ikan.

Karena menurutnya, minimnya kebutuhan ikan di Bontang dan Kaltim secara umum. Lantaran statusnya sebagai kota industri. Untuk Bontang saja, ia mengakui, dari total tangkapan yang turun di TPI, hanya sekira 10 persen ikan yang dikonsumsi warga Bontang.

Sedangkan sisanya, dikirim ke berbagai daerah. Seperti Berau, Tarakan, Balikpapan, Samarinda, Muara Badak, Penajam bahkan Palangkaraya.

“Jadi kapal asal Balikpapan, Berau, Donggala, Sulbar dan lainnya yang selama ini sandar di Bontang, hanya 10 persen ikannya masuk Bontang. Sisanya, dikirim ke berbagai daerah,” pungkasnya. (*)

Reporter : Imran Ibnu     Editor : Imran Ibnu



Comments

comments


Komentar: 0