16 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Dua Anak di Malahing Terancam Putus Sekolah


Dua Anak di Malahing Terancam Putus Sekolah
Aktivitas warga Malahing yang bekerja sebagai petani rumput laut. (Foto: Ist)

KLIKBONTANG - Malan nian nasib Nirwana (12) dan Sandi (13). Dua anak Malahing --salahsatu pemukiman pesisir yang berada di atas laut Bontang-- itu terancam putus sekolah. Penyebabnya, orangtua mereka tak lagi memiliki mata pancaharian pasca rumput laut yang mereka budidayakan gagal panen.

Nirwana dan Sandi hanyalah segelintir anak pesisir yang acap kali mengalami kesukaran meretas mimpi di bangku pendidikan. Untuk sampai ke sekolah mereka --YPPI- yang berada di Jalan WR Soepratman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, mereka harus menempuhnya dalam waktu lama.

Nirwana dan Sandi harus meniti laut Kota Taman dengan menggunakan perahu yang dikemudikan orangtua mereka saat pagi menjumput di ufuk timur, waktu dimana biasanya ombak besar datang bersuluh-suluh. Tiba di pelabuhan Tanjung Laut, mereka kemudian harus berjalan kaki 1 kilometer untuk sampai ke sekolah.

“Anak pak Dondi (Nirwana, Red.) dan pak Jalal (Sandi, Red.) sekolah di sana. Habis naik perahu menyeberang kemudian jalan kaki ke sekolah. Orangtua mereka enggak mampu kasih uang untuk ongkos naik angkot atau ojek,” kata Nasir Lakada, ketua RT di Malahing sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Sipatuo kepada klikbontang, Sabtu (9/5/2015) kemarin.

Kondisi ekonomi yang paceklik pasca gagal panen, membuat orangtua Nirwana dan Sandi urung niat untuk mendorong anaknya bersekolah lagi. Apalagi, keduanya bersekolah di luar Malahing yang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dari pantauan klikbontang di Malahing, beberapa waktu lalu, sudah banyak anak-anak di sana yang putus sekolah akibat kondisi finansial orangtua mereka yang menggap-menggap. Namun, tak ada angka pasti untuk jumlah dan sampai dimana riwayat pendidikan mereka.

Nasir mengungkapkan, saat ini ada sekira 60 warga Malahing yang sudah tidak bekerja lagi. Musababnya, rata-rata mereka tak lagi memiliki modal untuk membeli bibit rumput laut. Setelag mengalami gagal panen paling buruk tahun ini, Nasir dan tiga kelompok nelayan di Malahing telah mencoba melakukan pembibitan ulang. Sayang, usaha mereka sia-sia.

Nasir merincikan, setiap warga mengeluarkan biaya untuk membeli bibit sekira Rp 2 juta. Saat ini, mayoritas nelayan rumput laut di Malahing telah membeli bibit 2 kali sepanjang Januari hingga bulan ini. Kondisi ini semakin runyam ketika kocek yang mereka gunakan itu tak lain merupakan uang tabungan yang telah mereka sisihkan ketika panen tahun lalu.

Untuk menyiasati himpitan ekonomi itu, Nasir memaparkan, warga Malahing kini banyak beralih menjadi pencari terpiang untuk menyokong kehidupan mereka.

"Tapi tetap saja hasilnya rusak," jelasnya. “Sekarang banyak warga Malahing mengeluhkan. Saat ini untuk membiayai hidup sehari-hari saja susah, apalagi untuk beli bibit yang harganya enggak murah," imbuhnya. (*)

Reporter : Ichwal Setiawan    Editor : Dasrun Darwis



Comments

comments


Komentar: 0