20 Agustus 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Presdir Biomorf Pastikan Johannes Marliem Tewas


Presdir Biomorf Pastikan Johannes Marliem Tewas
Akun Twitter dan Facebook Johannes Marliem masih aktif beberapa jam setelah pria tersebut dikabarkan tewas. (Screenshoot via Facebook/@Johannes Marliem)

KLIKBONTANG.COM- Presiden Direktur PT Biomorf Lone Indonesia, Kevin Johnson pun ikut membenarkan jika rekan kerjanya Johannes Marliem, saksi kunci kasus korupsi e-KTP meninggal dunia.

Meski begitu, ia tidak tahu dengan pasti apakah rekan kerjanya itu meninggal karena bunuh diri seperti isu yang beredar. "Saya tidak bisa mengkonfirmasi secara rinci, tetapi ya Johannes sudah meninggal," ujar Kevin kepada KONTAN, Sabtu (12/8/2017).

Konfirmasi dari Kevin ini semakin menguatkan kepastian identitas pria yang tewas di kawasan elite Baverly Grove di Hollywood bagian barat. Sebelumnya, Unit Koroner Kepolisian Los Angeles juga memastikan bahwa pria yang sebelumnya menyekap seorang perempuan dan seorang anak dan akhirnya tewas bunuh diri adalah Johannes Marliem.

Kabar kematian Marliem ini membuat terkejut Kevin. Pasalnya, masih ada beberapa persoalan bisnis yang belum mereka selesaikan, terutama menyangkut pengerjaan proyek KTP elektronik (e-KTP) yang sampai saat ini masih dijalankan oleh PT Biomorf.

Belakangan, kontrak proyek tersebut dengan Kementerian Dalam Negeri bermasalah. Kevin mengakui meninggalnya Marliem menyisakan misteri. Ada beberapa hal yang belum terbongkar. Namun, Kevin bilang, enggan membahasnya saat ini.

"Saya juga telah membaca tentang dugaan bunuh diri, tapi saya tidak tahu yang sesungguhnya. Ini juga membuat saya kaget. Yang pasti, dengan berita yang tersebar ini, banyak pertanyaan yang harus dijawab. Maaf saya tidak bisa membantu lebih banyak," imbuhnya.

PT Biomorf adalah penyedia jasa automated fingerprint identification system (AFIS) merek L-1. Marliem bilang, Kemendagri masih punya kewajiban yang belum dibayarkan kepada perusahaannya sekitar Rp 48 miliar.

Beberapa waktu lalu, KONTAN sempat saling bertukar pesan dengan Marliem. Ketika itu ia sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

"Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam," ujarnya.

"Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media. Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul," imbuh Marliem mengomentari bocornya kepemilikan rekaman pembicaraan terkait pembahasan proyek e-KTP.

Berita yang Marliem maksud ialah soal terbongkarnya bukti berupa rekaman pembicaraan. Padahal, rekaman tersebut sebenarnya tak ingin ia beberkan. "Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights, harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman," tuturnya.

Itu sebabnya, ia sempat mengungkapkan harapannya agar (jurnalis) KONTAN tidak memelintir pemberitaan soal rekaman yang ia anggap sebagai catatan tersebut. Pasalnya, dalam pemberitaan di media sebelumnya, seolah-olah dijelaskan bahwa ketua DPR RI Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka gara-gara rekaman yang ia miliki.

"Jadi tolong jangan diplintir lagi. Saya tidak ada kepentingan soal rekaman. Dan ada rekaman SN (Setya Novanto) atau tidak, saya juga tidak tahu. Namanya juga catatan saya," ucap Marliem.

Marliem juga sempat membantah soal isi surat dakwaan yang menyebut ia sempat memberikan duit US$ 200.000 kepada Sugiharto, mantan pejabat Kemendagri yang sudah divonis bersalah di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Sebagai buktinya, ia memberikan potongan rekaman pembicaraannya dengan Sugiharto. Dalam pembicaraan itu, Marliem hanya ingin memberikan teknologi yang terbaik serta bekerja demi kesuksesan program e-KTP. Harga yang ia berikan kepada konsorsium pun merupakan harga wajar dan tidak digelembungkan seenaknya. (*)

Reporter : KONTAN    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0