23 September 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Yusril dan Eks Hakim MK Debat di Sidang Golkar, Hakim Turun Tangan


Yusril dan Eks Hakim MK Debat di Sidang Golkar, Hakim Turun Tangan
Ical dan Agung Laksono buka Mupimnas Kosgoro. ©2014 merdeka.com

KLIKBONTANG - Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, kembali menggelar sidang konflik kepengurusan Partai Golkar antara kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan kubu Agung Laksono. Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan pendapat saksi ahli dari pihak tergugat Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, dan juga tergugat intervensi dari kubu Agung Laksono.

Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Maruarar Siahaan sebagai salah satu saksi ahli mengatakan, bahwa keputusan yang diberikan oleh Mahkamah Partai Golkar (MPG) bersifat final dan mengikat. Sehingga tidak perlu lagi dibahas di pengadilan.

"Tugas pokok yang dilakukan oleh hakim atau yang ditunjuk oleh mahkamah partai untuk memberikan pendapat untuk menyelesaikan sengketa. Sesuai Undang-Undang Partai Politik, keputusan Mahkamah Partai Golkar bersifat final dan mengikat (final dan binding) sehingga tidak perlu lagi dibawa ke pengadilan," jelas Maruarar dalam persidangan di PTUN Jaktim, Senin (27/4).

Menurutnya, hasil putusan MPG sudah sah di mana dua hakim Andi Mattalata dan Jasri Marin sudah memberikan keputusan untuk memenangkan DPP Partai Golkar hasil Munas Ancol yang digelar Agung Laksono cs sebagai kepengurusan yang sah. Sedangkan Maruarar menganggap Hakim MPG Muladi dan HAS Natabaya tidak berpihak atau abstain.

Menanggapi hal tersebut, Pengacara Partai Golkar Munas Bali, Yusril Ihza Mahendra menganggap keterangan Maruarar tidak relevan. Sebab, sidang kali ini menggugat Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, bukan keputusan Mahkamah Partai.

"Kami menggugat SK Menkum HAM Yasonna Laoly, bukan keputusan mahkamah partai. Sedangkan Agung Laksono yang meminta untuk menjadi tergugat intervensi itu urusan mereka bukan kita yang meminta," ujar Yusril.

Selain tidak relevan, Yusril juga mengaggap keterangan Maruarar tidak konsisten. "Sebelumnya dia bilang tugas hakim Mahkamah Partai itu untuk memutuskan. Tapi ketika ditanya apakah memutuskan atau merekomendasi, dia jawab rekomendasi. Jadi kami pertanyakan kosistensinya sebagai saksi ahli," imbuh Yusril.

Namun debat tersebut dihentikan oleh Hakim Teguh Satya Bhakti lantaran waktu penyampaian keterangan Maruarar sebagai ahli sudah habis. Selain Maruarar, hadir pula mantan hakim MK Harjono dan Ahli Hukum Tata Negara Lintong Siahaan sebagai saksi ahli.(jm30/merdeka)

Reporter :     Editor : M Andrian



Comments

comments


Komentar: 0